Breaking News:

Tribun Soppeng

Awal Mula Tertangkapnya 19 Pemuda Soppeng Gegara Retas Kartu Kredit WNA, Pelakunya Ada Masih SMA

Namun, aktivitas itu ilegal dan menjadi incaran kepolisian yang rutin melakukan patroli siber.

Awal Mula Tertangkapnya 19 Pemuda Soppeng Gegara Retas Kartu Kredit WNA, Pelakunya Ada Masih SMA
KartuKreditKu.ID
Ilustrasi

TRIBUNSOPPENG.COM, WATANSOPPENG - Aktivitas nongkrong di depan laptop sejumlah anak muda di Kelurahan Pajalesang, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, ternyata menghasilkan untung besar.

Namun, aktivitas itu ilegal dan menjadi incaran kepolisian yang rutin melakukan patroli siber.

Buntutnya, ada 19 pemuda yang ditangkap dan dinyatakan sebagai tersangka lantaran mengakses dokumen pribadi orang lain dengan cara ilegal, Minggu (23/8/2020) lalu.

Kasat Reskrim Polres Soppeng, AKP Amri mengatakan, modus para pemuda itu yakni mengakses data debit atau kartu kredit orang lain untuk kemudian ditransmisikan ke aplikasi milik pelaku sebagai penampung dana.

"Ini adalah hasil patroli rutin kami, dapat baket soal aktivitas mereka. Inikan aktivitas mereka mengakses dokumen kartu kredit nasabah, entah korbannya dimana, kita tidak pedulikan itu, tapi intinya apa yang dilakukan dengan meretas atau mengakses dokumen pribadi itukan ilegal," katanya, saat dikonfirmasi Tribun Timur, Selasa (25/8/2020).

Mereka adalah, AL (21), MJ (23), RN (17), AS (25), RS (24), IB (30), TH (18), MS (20), AS (15), AJ (17), FJ (16), SV (30), SS (23), AB (19), MS (21), AU (19), AM (24), RZ (28), dan DR (23).

Bahkan, dua diantaranya masih berstatus pelajar. Ada yang baru kelas 1 SMA dan ada yang kelas 3 SMA.

AKP Amri menambahkan, aktivitas ilegal itu melanggar Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang ITE.

Dari hasil kejahatan itu, para pelaku bisa memeroleh keuntungan hingga miliaran rupiah.

"Hasilnya bisa miliaran rupiah, tapi kita tidak fokus disitunya. Kita fokus pada tindakan meretas atau mengakses dokumen pribadi pemiliknya, itu pelanggarannya dan itu perbuatan ilegal," katanya.

Masih dari keterangan AKP Amri, rata-rata korbannya adalah warga negara asing.

Para pemuda tersebut pun dikenakan pasal 48 ayat (1) jo pasal 32 ayat (1) (Penjara 8 tahun dan/atau denda 2 miliar) dan/atau pasal 46 ayat (1) jo pasal 30 ayat (1) (Penjara 6 tahun dan/atau denda 600 juta) Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang ITE.

Penulis: Hardiansyah Abdi Gunawan
Editor: Sudirman
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved