Webinar Kementerian Pertanian
Ketua Pemuda Tani HKTI Sulsel: Hanya 5 yang Diingankan Petani
Menurutnya petani adalah orang-orang yang memiliki sumbangsi besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Penulis: Desi Triana Aswan | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN-TIMUR.COM - Ketua Pemuda Tani Himpunan Kerukunan Tani (HKTI) Sulsel, Rachmat Sasmito memberikan argumentasinya dalam Webinar Kementrian Pertanian RI kembali digelar Selasa (18/8/2020).
Ia mengungkapkan kegundahan para petani yang selama ini menjadi isu dalam HKTI.
Menurutnya petani adalah orang-orang yang memiliki sumbangsi besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
"Teringat kata Bung Karno dalam suatu pidatonya bahwa petani memiliki akronim Penyangga Ketahanan Negara Indonesia ini berarti bahwa petani memiliki peran besar untuk keberlangsungan hidup rakyat Indonesia," jelasnya.
Sehingga sambungnya petani harus memiliki kehidupan yang layak dan sejahtera.
"Tapi realitas keadaan seperti ini, harusnya petani kita lebih sejahtera," tuturnya.
Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang begitu dipuja oleh berbagai negara, namun justru memilih impor.
"Ini terlihat pada data impor Badan Pusat Statistik (BPS) salah satunya dari Vietnam negara yang baru terkoyak dan Indonesia lebih dulu merdeka malah mereka yang menjadi salah satu suplier pangan kita," tuturnya.
"Mau sampai kapan petani kita akan dibuat seperti ini?," jelasnya.
Rachmat Sasmito mengutarakan bahwa masalah pokok yang terjadi pada petani sebenarnya tak begitu banyak.
"Pemerintah bisa memberikan kebijakan yang bisa membantu pertanian. Kita sadari hari ini sektor pertanian jadi penyumbang PDB yang lumayan baik. Kenaikan itu tidak signifikan disektor petani. Malah yang menikmati hasil pertanian ya kartel," tuturnya.
Sedangkan distribusi hasil pertanian hanya beberapa persen saja dirasakan petani.
"Jika jaman dulu, pada krisis ekonomi nilai harga cengkeh naik, petani-petani itu kelihatan hasilnya. Mereka bisa membeli mobil. Untuk tahun ini, menurut BPS ada kenaikan ekspor tapi nyatanya di daerah banyak yang tidak merasakan itu," jelasnya.
Ia pun mengungkapkan hanya lima yang diinginkan para petani Indonesia.
"Petani itu sederhanya hanya, benih unggul tersedia, bahan pengolahan tanah tersedia dengan cukup jangan sudah lewat masa tanam, benihnya baru datang, pupuknya harus ada," jelasnya.
Dari berbagai banyak keluhan petani yang didengarkannya, panen harga ternyata menjadi salah satu kendalanya.
"Yang terjadi hari ini panen harganya anjlok. Ongkos produksi dengan hasil yang didapatkan tidak seimbang," tuturnya.
Selain itu, untuk menaikkan produktivitas para petani menurutnya butuh pasokan modal yang cukup.
"Ini yang perlu dipikirkan, bagaimana kebijakan pertanian menjadi baik. Kementrian pertanian yang tentunya harus memberikan supporting khusus untuk petani kita," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/webinar-kem43.jpg)