Breaking News:

Banjir Bandang Luwu Utara

Bamsoet Desak Pemda Usut Tuntas Penyebab Banjir Bandang Luwu Utara

Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyalurkan bantuan Program MPR Peduli sebesar Rp 100 juta untuk korban bencana banjir bandang.

Penulis: Chalik Mawardi | Editor: Hasriyani Latif
ist
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyalurkan bantuan Program MPR Peduli sebesar Rp 100 juta untuk korban bencana banjir bandang di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. 

TRIBUNLUTRA.COM, MASAMBA - Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyalurkan bantuan Program MPR Peduli sebesar Rp 100 juta untuk korban bencana banjir bandang di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Dalam penyaluran ini MPR bersama Generasi Lintas Budaya, BPIP, Komunitas Gerakan Scooterist Peduli (GSP), dan Gerakan Keadilan Bangun Solidaritas (Gerak BS).

Banjir bandang pada Senin (13/7/2020) telah menewaskan 38 warga, 10 hilang, dan menyebabkan puluhan ribuan warga mengungsi sejak pertengahan Juli hingga sekarang.

"Selain bergotong royong memberikan bantuan, kita juga mendesak pemerintah daerah, provinsi hingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengusut tuntas penyebab terjadinya banjir bandang," kata Bamsoet melalui keterangan tertulis yang diterima TribunLutra.com, Minggu (16/8/2020).

"Karena ada berbagai dugaan, salah satu penyebabnya karena tata kelola lingkungan hidup yang amburadul. Luwu Utara memiliki luas hutan sekitar 750,268 hektare, terbesar di Sulsel. Ironis jika sampai terkena banjir bandang, pasti ada sebuah kesalahan dalam mengelola lingkungan," lanjutnya.

Mantan ketua DPR RI ini mengingatkan, alam telah memberikan banyak berkah bagi bangsa Indonesia.

Karenanya para pemimpin daerah hingga pusat harus bijak mengatur pengelolaannya.

"Kejadian di Luwu Utara menjadi peringatan keras bagi berbagai daerah lain di Indonesia. Eksploitasi berlebihan terhadap alam tak akan mendatangkan kemakmuran, malah mendatangkan kehancuran," tuturnya.

"Jangan biarkan alam marah karena perilaku kita yang serakah. Karenanya bersahabat dengan alam adalah keharusan," ujarnya.

Ia juga menyoroti kajian akademik dari Universitas Hasanudin (Unhas) Makassar yang sejak tahun 2019 telah memprediksi potensi bencana alam di Luwu Utara.

Akibat praktik penebangan hutan dan perluasan lahan perkebunan sawit.

Peringatan melalui kajian tersebut, sebut dia seharusnya bisa diantisipasi oleh berbagai pihak sehingga tidak membuat rakyat menjadi korban.

"Salah satu problem terbesar dalam menjalankan pemerintahan di daerah hingga pusat adalah tidak mau mendengar masukan dan kajian dari para ahli. Akibatnya banyak anak bangsa yang memiliki ilmu pengetahuan tentang kebencanaan malah tidak dimanfaatkan," katanya.

"Di luar negeri seperti Jepang dan Amerika, negara yang akrab dengan bencana badai topan misalnya, bisa mengantisipasi sejak setahun sebelumnya karena mereka memanfaatkan para ahli kebencanaan," lanjutnya.(*)

Laporan Wartawan TribunLutra.com, Chalik Mawardi

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved