Breaking News:

Tribun Opini

Curhat Belajar di Rumah: Anak Daring, Orangtua Darting, Negara Salting

orangtua tidak perlu darting memikirkan biaya pendidikan yang mahal berikut kebutuhan tambahan akibat belajar daring.

dok.tribun
Suriani SPdI, Pemerhati Sosial dan Politik asal Pulau Laelae 

Suriani SPdI
Pemerhati Sosial dan Politik asal Pulau Laelae

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Data pada Rabu (5/8) menunjukkan kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 116.871 kasus, dengan total kesembuhan pasien sebanyak 73.889, sedang kematian akibat Covid-19 sebanyak 5.542. Jumlah itu menjadikan Indonesia berada para peringkat ke tujuh di kawasan Asia.

Terus meningkatnya angka kasus tersebut membuat pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) bersama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 serta sejumlah kementerian lainnya memutuskan agar pelaksanaan tahun ajaran baru 2020-2021 dilakukan dari rumah (daring), khususnya pada wilayah-wilayah yang berada di zona kuning, orange dan merah. 

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) via daring diambil sebagai Langkah antisipasi mencegah penularan virus Covid-19 di kalangan pelajar. Hanya saja, proses belajar daring ini berjalan bukan tanpa hambatan. Bahkan hambatan tersebut tak hanya dialami oleh para siswa, melainkan juga para guru.

Ketiadaan sarana seperti HP, keterbatasan kuota internet dan kesulitan mendapat sinyal adalah persoalan yang paling banyak dikeluhkan.

Daring vs Darting
Pembelajaran daring akhirnya memberi beban baru bagi orangtua sebab harus menyiapkan anggaran tambahan untuk membeli kuota internet. Padahal, pandemi yang sudah berlangsung berbulan-bulan ini telah memberi dampak yang luar biasa bagi pendapatan rakyat. Krisis ekonomi melanda Indonesia bahkan ancaman resesi sudah di depan mata.

Pengangguran bertambah banyak akibat PHK di mana-mana demikian pula angka kemiskinan terus meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan jumlah penduduk miskin per Maret 2020 sebanyak 26,42 juta orang. (Kompas.com 15/7/2020)

Kesempitan ekonomi menciptakan stres tersendiri bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah, sebab berdampak pada sulitnya mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Stres pun bertambah di kalangan orangtua sebab proses belajar daring mengharuskan mereka untuk mendampingi anak selama belajar di rumah. Menyediakan dana untuk membeli HP dan kebutuhan kuota internet saja sudah bikin puyeng, ditambah lagi harus mendampingi anak belajar selama seharian di rumah.

Banyak orangtua yang mengaku kesulitan mengikuti pembelajaran daring. Mulai dari keluhan karena tidak punya uang untuk membeli HP dan kuota internet, sampai mengeluh karena tak menguasai teknologi. Tak hanya itu, orangtua juga banyak yang tidak mengerti pelajaran anaknya. Tak sedikit yang darting (darah tinggi) menghadapi anaknya bahkan sampai melakukan kekerasan fisik terhadap anak.

Halaman
123
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved