Breaking News:

13 Hari Berturut-turut Sulsel di Bawah 1, Konsultan: Bukan Adaptasi, Tapi Kewaspadaan Baru

Besaran laju insidens tersebut menggambarkan dinamika Covid-19 di populasi masih bergejolak.

TRIBUN TIMUR/M FADLY
Dilansir data yang dikirimkan tim konsultan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulsel, Minggu (2/8/2020) malam memperlihatkan, angka reproduksi efektif (Rt) di Sulsel berada di bawah 1, tepatnya di angka 0,93. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Informasi terbaru terkait penanggulangan Covid-19 di Sulawesi Selatan terus diperbarui Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan (Diskes Sulsel).

Dilansir data yang dikirimkan tim konsultan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulsel, Minggu (2/8/2020) malam memperlihatkan, angka reproduksi efektif (Rt) di Sulsel berada di bawah 1, tepatnya di angka 0,93.

Angka tersebut turun bila dibandingkan dengan sehari sebelumnya di angka 0,95.
Artinya, sudah 13 hari berturut-turut Rt Sulsel di bawah 1, detailnya sejak (21/7/2020) hingga (1/9/2020).

Pada 21 Juli (0,98), 22 Juli (0,92), 23 Juli (0,92), 24 Juli (0,94), 25 Juli 0,90), 26 Juli (0,91), 27 Juli (0,90), 28 Juli (0,92), 29 juli (0,92), 30 Juli (0,95), 31 Juli (0,94), 1 Agustus (0,95) dan 2 Agustus (0.93).

Menanggapi hal tersebut, Ketua Tim Konsultan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulsel, Prof Ridwan Amiruddin mengatakan, ini belum cukup menuju adaptasi baru.

"Bukan, tetapi kewaspadaan baru," kata Ahli Epidemologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) itu via pesan WhatsApp, Minggu (2/8/2020).

Mengapa? "Per 2 Agustus angka reproduksi efektifnya sudah sebesar 0.93. Ini menempatkan Sulsel sebagai lima wilayah dengan reproduksi terendah. Akan tetapi, hal yang paling perlu diwaspadai adalah tingginya laju insidensi covid-19 ini, khususnya di wilayah epicentrum, termasuk Makassar," ujarny.

Besaran laju insidens tersebut menggambarkan dinamika Covid-19 di populasi masih bergejolak. Hanya butuh sedikit pemicu, maka covid ini dapat meledak setiap saat di beberapa wilayah.

"Pemicu yang dimaksudkan di antaranya kerumunan yang tidak mengindahkan protokol kesehatan. Sebagai contoh hasil test sektor informal di Makassar menunjukkan 30% terkonfirmasi reaktif," jelasnya.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut?

Halaman
12
Penulis: Muhammad Fadhly Ali
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved