Breaking News:

Kementan

Kementan Gerak Cepat Antisipasi Wilayah Banjir di Saat Musim Kemarau

Meski kemarau terus berlanjut, BMKG telah mengingatkan potensi hujan tinggi di sejumlah wilayah

abdiwan/tribuntimur.com
Sejumlah anak bermain di daerah persawahan yang mengalami kekeringan di kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Senin/24/9/2018. BMKG Sulawesi Selatan menduga musim kemarau panjang akan berlangsung hingga bulan Oktober di berbagai wilayah di Sulawesi Selatan. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Meski kemarau terus berlanjut, BMKG telah mengingatkan potensi hujan tinggi di sejumlah wilayah. Indonesia bagian selatan mengalami kemarau, sedangkan wilayah ekuator masih berpotensi curah hujan tinggi. Dinamika cuaca dan iklim di Indonesia tahun ini menjadikan terjadinya cuaca/iklim yang kontras, yaitu sejumlah wilayah mengalami kekeringan, sementara wilayah lain diguyur hujan ekstrem, seperti halnya yang terjadi di sebagian wilayah Sulawesi.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, banjir bandang menerjang Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara (Sulut). Saat ini, kerugian di sektor pertanian sedang didata dan dihitung oleh Dinas Pertanian Provinsi Sulut dan Dinas Pertanian Kabupaten Bolmong.

Menyikapi kejadian ini, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi, menginstruksikan kepada jajarannya untuk segera mendata dan memastikan angka pusonya, serta upaya-upaya penanganan yang dilakukan. Kementan berkomitmen penuh mengantisipasi dampak banjir di musim kemarau dengan memberikan berbagai bantuan.

"Hal ini harus cepat dilakukan guna membantu petani yang terdampak banjir tersebut. Sesuai arahan Menteri Pertanian dalam menjaga dan meningkatkan produksi pangan, permasalahan di lapangan harus cepat diselesaikan. Masalah pangan adalah tugas negara," tegas Suwandi di Jakarta, Sabtu (1/8/2020).

Sementara itu, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Edy Purnawan mengatakan pihaknya langsung koordinasi dengan BPTPH untuk memastikan datanya dan dengan Dinas Pertanian Provinsi Sulut maupun Dinas Pertanian Kabupaten Bolmong agar segera mengusulkan bantuan benih akibat puso ke Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.

"Sesuai arahan Bapak Mentan Syahrul Yasin Limpo bahwa Kementan harus responsif dan gerak cepat apabila terjadi permasalahan di lapangan. Apalagi faktor cuaca dan iklim membawa dampak bagi pertanian," ujar Edy

Terpisah, Yohanes Wowor, petugas dari Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) selaku Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang berwenang mendata dan melaporkan kejadian banjir pada pertanaman pangan dan hortikultura, ada 5 kecamatan yang pertanamannya terdampak banjir.

“Pertanaman padi dan jagung yang terdampak banjir antara lain di Kecamatan Dumoga, Dumoga Timur, Dumoga Tengah, Dumoga Utara, dan Dumoga Barat," ungkap Yohanes.

Petugas BPTPH lain yang ditugaskan di wilayah Bolmong, I Made Wiratma, menyatakan bencana dipicu curah hujan tinggi dan terus menerus selama beberapa hari hingga menyebabkan meluapnya Sungai Ongkag Dumoga dan Bendung Toraut. Setelah dilakukan pendataan, areal pertanaman (standing crop) yang terdampak seluas 103 ha pertanaman padi, dengan 1,8 ha di antaranya sudah dinyatakan puso, sedangkan areal pertanaman jagung yang terdampak seluas 25,5 ha dengan 3,5 ha di antaranya tercatat puso.

“Angka ini masih memungkinkan akan meningkat mengingat pendataan masih terus dilakukan dan banjir sudah surut”, tukasnya.

Sebagaimana informasi yang dirilisnya, BMKG memprediksi musim kemarau secara umum akan berlangsung hingga bulan Oktober 2020, sedangkan potensi curah hujan tinggi hingga sangat tinggi di wilayah yang tidak/belum mengalami kemarau akan terjadi hingga empat bulan ke depan. Untuk itu, meskipun telah memasuki musim kemarau, kejadian curah hujan tinggi tetap harus diwaspadai, terutama di wilayah ekuator.

Editor: Rasni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved