Breaking News:

Tribun Toraja

Aliansi Mahasiswa Sangtorayaan Gelar Aksi Unjuk Rasa di Rantepao, Ini Tuntutannya

Para demonstran menuntut keadilan terkait sengketa tanah Lapangan Gembira Rantepao.

TRIBUN-TIMUR.COM/RISNA
Aliansi Sangtorayaan Mahasiswa Toraya Indonesia menggelar aksi unjuk rasa di tugu Kandean Dulang depan Pos Lantas Rantepao, Kecamatan Rantepao, Toraja Utara, 

TRIBUNTORAJA.COM, RANTEPAO - Aliansi Sangtorayaan Mahasiswa Toraya Indonesia, menggelar aksi unjuk rasa di Tugu Kandean Dulang, Kecamatan Rantepao, Kabupaten Toraja Utara, Selasa (28/7/2020).

Para demonstran menuntut keadilan terkait sengketa tanah Lapangan Gembira Rantepao.

Massa berkumpul di tugu Kandean Dulang setelah melakukan aksi di Plaza Kolam Makale Kecamatan Makale, Kabupaten Tana Toraja.

Mahasiswa tergabung aksi GMNI, Amujas, GMKI, GAMKI, Mahasiswa Sangtorayaan, PMKRI, Pemudah dan Mahasiswa Awan (PMA), Ikatan Mahasiswa Rantepao (IMR) dan lainnya.

Kordinator Lapangan (Korlap) Aksi, Chong Len Fat dan Wakil Jenderal 1 Kordinator Lapangan, Aprias Bunganna.

Aprias mengatakan, kasus sengketa tanah lapangan gembira dimana Pemkab Toraja Utara menjadi tergugat dan digugat oleh ahli waris Alm. H Ali dan keluarga, yang katanya tanah dibeli dari Ambo Badde tanpa bukti jelas.

Di atas tanah Lapangan Gembira terdapat fasilitas umum seperti bangunan SMAN 2 Toraja Utara, Gedung Olahraga, kantor dinas, UPT Pemprov Sulsel dan lainnya.

Gugatan Aliansi Sangtorayaan Mahasiswa Toraya Indonesia yaitu, setelah menemukan cacat hukum penanganan.

Kasus sengketa tanah lapangan gembira setelah upaya terakhir dilakukan Pemkab Toraja Utara yaitu pengajuan Peninjauan Kembali (PK) ke Pengadilan Negeri Makale Tana Toraja.

Ada empat cacat hukum dimaksud yaitu Bupati Toraja Utara sebagai satu kesatuan kantor pelayanan dan fasilitas pendidikan maupun kesehatan, serta hak milik dua bangunan Pemprov Sulsel.

"Bukti diajukan penggugat adalah foto copy tanpa memperlihatkan yang asli, dan dalam gugatan itu ada beberapa batas-batas tanah tidak sesuai fakta," ucap Aprias.

Parahnya para penggugat minta ganti rugi Rp 650 Miliar dengan menuntut semacam dwasong/uang paksa, atau sewa sebesar Rp 200 Juta per hari kepada tergugat setelah dinyatakan memiliki kekuatan hukum.

"Maka itu kami dari Aliansi Sangtorayan atau Mahasiswa Toraya Indonesia menyeruhkan kepada masyarakat Sangtorayaan, agar bersama-sama peduli dan bersatu pertahankan Lapangan Gembira," terang Aprias.

Para demonstran bergantian orasi dan meminta Mahkamah Agung (MA) RI agar menindak para mafia tanah, dan memeriksa hakim yang menangani sengketa tanah lapangan gembira.

Laporan Wartawan TribunToraja.com, @cinnank17

Penulis: Risnawati M
Editor: Sudirman
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved