Breaking News:

APPD Desak Polisi Tangkap Aktor Pengeroyokan Sekretaris Golkar Majene

Koordinator Aksi Arisman mengatakan pihaknya menyampaikan lima tuntutan. Pertama mendesak Kapolres Mamuju

TRIBUN TIMUR/NURHADI
Puluhan pemuda unjuk rasa di Bundara Pertokoan Majene, Senin (27/7/2020) Mereka mendesak polisi agar mengusut tuntas kasus pemukulan Sekertaris DPD II Golkar Majene yang terjadi pada 19 Juli lalu, di lobi Grand Maleo Hotel Mamuju. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAMUJU - Aliansi Pemuda Peduli Demokrasi (APPD) Majene desak pihak kepolisian mengusut tuntas kasus kekerasan terhadap Sekretaris Golkar Majene, Muhammad Irfan Syarif.

Desakan tersebut disampaikan puluhan pemuda yang mengatasnamakan APPD melalui unjuk rasa di bundaran pusat pertokoan kota Majene, Senin (27/7/2020).

Koordinator Aksi Arisman mengatakan pihaknya menyampaikan lima tuntutan. Pertama mendesak Kapolres Mamuju untuk segera menangkap pelaku pengeroyokan Sekertaris DPD Golkar Majene.

Kemudian menuntut Kapolres menangkap aktor dibalik pengeroyokan Sekertaris DPD Golkar Majene, meminta Kapolres memeriksa Bupati Mateng Aras Tammauni sebagai saksi yang dicurigai aktor intelektual dibalik Pengeroyokan Sekertaris DPD Golkar Majene.

"Ini adalah sebuah tindakan yang mencederai Demokrasi Di Sulawesi Barat karena itu kami juga menuntut Kapolda untuk memperhatikan kasus ini lebih serius dan dengan tindakan penyelidikan yang luar biasa,"pungkasnya.

Dia menegaskan kepolisian harus menegakkan hukum tanpa pandang bulu, siapapun pelaku penganiayaan terhadap Irfan Syarif agar diseret ke meja hijau.

"Tegakkan hukum di Bumi Sulawesi Barat, tegakkan demokrasi di Sulawesi Barat, usut tuntas pelaku pengeroyokan Sekertaris DPD Golkar Majene,"kata dia.

Selain itu, pihaknya juga menuntut Kapolres Mamuju mundur jika tak mampu menangkap pelaku dan dalang dibalik pengeroyokan Sekertaris DPD Golkar Majene pada Minggu 19 Juli lalu di Lobi Hotel Grand Maleo Mamuju.

"Kita tahu bahwa pemukulan yang dialami oleh saudara kita Muhammad Irfan Syarif adalah tindakan yang sangat brutal. Dilakukan oleh orang tak dikenal yang tiba-tiba menyerang dan memukul korban di hotel d'Maleo. Ini tindakan yang sangat melanggar hukum,"tegasnya.

Menurutnya delapan hari pasca pemukalan, bukan waktu yang singkat bagi aparat penegak hukum untuk menangkap para pelaku.

Namun hingga saat ini belum satupun tersangka. Karenanya ia berharap penegak hukum dalam hal ini Polresta Mamuju agar serius menuntaskan masalah tersebut.

"Kita khawatir jika kasus ini berlarut-larut akan adanya kejadian serupa di masa yang akan datang karena tidak ada ketegasan dari aparat,"pungkasnya.

Penulis: Nurhadi
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved