Tribun Luwu

KSPSI Ingatkan Potensi Bencana Sungai Bua dan Sungai Pakkalolo Luwu

Hidayat Jaya mengingatkan ancaman banjir bandang di Sungai Bua dan Sungai Pakkalolo, Kecamatan Bua, Luwu.

ist
Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Kabupaten Luwu, Hidayat Jaya 

TRIBUNLUWU.COM, BUA - Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, tidak hanya aktif dalam memberikan perlindungan serta edukasi ketenagakerjaan kepada para anggotanya.

Mereka ikut aktif dalam aksi sosial dan kemanusiaan. Salah satunya penanganan pra dan pasca bencana.

Melihat tingginya potensi bencana di Luwu, organisasi yang diketuai Hidayat Jaya mengingatkan ancaman banjir bandang di Sungai Bua dan Sungai Pakkalolo, Kecamatan Bua, Luwu.

Hidayat mengatakan, berkiblat pada musibah banjir bandang yang melanda Luwu Utara, Pemkab Luwu dari tingkat desa sampai kabupaten diminta secapatnya bergerak.

"Tidak ada yang pernah menyangka Sungai Radda dan Sungai Masamba bisa banjir bandang jika melihat debit airnya selama ini," ujar Hidayat, Senin (20/7/2020).

"Di Bua, setidaknya ada dua sungai besar. Ini potensi menimbulkan bencana yang besar pula jika tidak cepat diambil langkah strategis dan tegas," katanya.

Pengelolaan kawasan hutan, kata dia, bisa mengkolaborasikan kearifan lokal dan hasil kajian akademik.

"Kita ketahui bersama bahwa kejadian tanah longsor seringkali terjadi di beberapa daerah di Indonesia dan tak sedikit korban yang tewas karenanya. Salah satu yang terbesar dan terjadi di Tana Luwu adalah banjir bandang Luwu Utara," tuturnya.

"Inilah sebabnya perlu dilakukan upaya dan strategi penanggulangan tanah longsor. Sebab banjir bandang karena adanya tanah longsor. Salah satu strateginya adalah aktif penanaman pohon kayu dan sagu serta memberikan pengawasan dan pendampingan tentang pengelolaan kawasan hutan rakyat di hulu dan lereng gurung," katanya.

Mengutip penelitian sejumlah ahli, Hidayat menambahkan cara yang dapat dilakukan dalam mencegah bencana tanah longsor adalah menghindari pembangunan permukiman di daerah bawah lereng.

Mengurangi tingkat keterjangan lereng dengan pengolahan lahan terasering di kawasan lereng, menjaga drainase lereng yang baik untuk menghindarkan air mengalir dari dalam lereng keluar lereng, pembuatan bangunan penahan supaya tidak terjadi pergerakan tanah penyebab longsor.

"Upaya penanggulangan tanah longsor seperti halnya banjir, harus terintegrasi antara tindakan masyarakat yang bermukim di area rawan longsor dengan pemerintah setempat. Baik di hulu yang hidup di bantaran sungai, maupun yang berada di muara," tuturnya.(*)

Laporan Wartawan TribunLuwu.com, Chalik Mawardi

Penulis: Chalik Mawardi
Editor: Hasriyani Latif
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved