Breaking News:

Update Corona Takalar

RS Wahidin Bantah Tudingan 'Salah Vonis Covid' Terhadap Balita Asal Takalar

Pihak RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar menanggapi tudingan 'salah vonis covid' terhadap pasien bayi AG (3 bulan) asal Takalar

Penulis: Rudi Salam | Editor: Suryana Anas
Dok Pribadi Prof dr Mansyur Arif
Komandan Gugus Covid-19 RS Wahidin Sudirohusodo, Prof dr Mansyur Arif 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pihak RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo (RSWS) Makassar menanggapi tudingan 'salah vonis covid' terhadap pasien bayi AG (3 bulan) asal Takalar yang meninggal 19 Juni 2020 lalu.

Tudingan tersebut dibantah pihak RS karena penanganan yang dilakukan sudah sesuai protap pelayanan Covid-19 yang berlaku.

"Sesuai dengan Pedoman Tatalaksana Covid19 di Indonesia, maka RSWS menerapkan protokol triase Covid-19 di Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk deteksi dini Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19 bagi semua pasien emergency yang masuk ke RSWS," kata Komandan Gugus Covid-19
RSWS, Prof. dr. Mansyur Arif via rilis yang diterima tribun-timur.com, Senin (13/7/2020).

Dirinya menjelaskan bahwa pasien bayi AG masuk ke IGD RSWS tanggal 18 Juni 2020 pukul 19.00 dengan sakit berat (perut kembung dan sepsis).

Kemudian, lanjutnya, pasien diterima di ruang transit/skrining IGD, dilakukan pemeriksaan terhadap pasien dan permintaan pemeriksaan rapid test dan MSCT Thorax tanpa kontras sebagai prosedur emergency skrining covid-19 dengan hasil antibodi Sars-cov-2 IgM reaktif dan IgG non reaktif.

"Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) menyatakan pasien kriteria PDP, rencana rawat diisolasi di Infection Center dan pemeriksaan swab," katanya.

Pihak RS kemudian melakukan edukasi ke keluarga mengenai status PDP pasien, dan keluarga menandatangani informed consent.

Berdasarkan riwayat penyakit, pemeriksaan klinis, pemeriksaan radiologi, lanjutnya, pasien didiagnosis dengan suspek Hirschprung Disease.

"Dalam masa observasi, kondisi pasien mengalami perburukan. Pasien makin sesak, penurunan kesadaran, dan dilakukan resusitasi, rencana dilakukan tindakan intubasi namun keluarga pasien menolak. Dokter melakukan upaya perbaikan kondisi dan terapi, namun kondisi pasien memburuk," jelasnya.

Rencana edukasi orang tua pasien untuk menjelaskan kondisi pasien dan tindakan yang dilakukan tidak dilakukan karena orang tua pasien tidak ditempat.

"Petugas menghubungi security untuk mencari orang tua pasien tetapi tidak ditemukan, satu jam kemudian orang tua pasien tiba di Infection Center," katanya.

Kemudian, lanjutnya, dokter bedah anak menjelaskan kondisi pasien kepada orang tua pasien. Pasien mengalami henti nafas dan dilakukan tindakan resusitasi selama 15 menit

Pasien dinyatakan meninggal dunia, dan dilakukan pemeriksaan swab post mortem.

Pemakaman dilakukan dengan tatalaksana covid oleh tim gugus covid. Hasil swab keluar beberapa hari kemudian dengan hasil negatif.

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved