Liga 1
PSM Bermarkas di Yogyakarta, Ini Komentar Kelompok Suporter PSM
PSSI bersama PT Liga Indonesia Baru (LIB) memutuskan akan melanjutkan kompetisi Liga 1 pada 1 Oktober nanti.
Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - PSSI bersama PT Liga Indonesia Baru (LIB) memutuskan akan melanjutkan kompetisi Liga 1 pada 1 Oktober nanti.
Seluruh pertandingan Liga 1 akan dipusatkan di Pulau Jawa dan digelar tanpa penonton. Klub-klub dari luar Jawa akan berkandang di Yogyakarta dan sekitarnya.
Kelompok suporter PSM menyambut baik dilanjutkannya Liga 1, meski sedikit kecewa dengan digelar tanpa penonton, dan harus bermarkas di Yogyakarta.
Panglima Laskar Ayam Jantan (LAJ), Daeng Uki mengatakan meski kecewa, namun sebagai suporter Ia berbesar hati demi kemajuan sepak bola Indonesia.
"Kalau ditanya yah pasti kecewa juga, tapi kalau ini demi sepakbola Indonesia untuk lebih baik, yah kita harus berbesar hati," kata Uki, Sabtu (11/7/2020).
Uki berharap, segala keputusan terkait kelanjutan Liga 1 dapat menjadi yang terbaik bagi PSM.
"KIta berharap yang terbaik buat tim ini, dan mari kita support dan doakan bersama," ucapnya.
Sekjen Red Gank, Sadakati Sukma menilai kelanjutan liga adalah hal yang baik untuk persepakbolaan Indonesia, dimana ini bisa menghindarkan dari sanksi.
"Sebagai masyarakat, ini sebuah keputusan dari badan liga, dimana dengan dilanjutkannya kompetisi bisa menghasilkan wakil Indonesia baik di AFC maupun Champiom Asia," kata Sadat.
"Karena kalau mau menghentikan kompetisi, ada sebuah risiko bagi persepakbolaan Indonesia, atau PSSI. Kalau dihentikan kita bisa disanksi tanpa wakil di kompetisi Asia," tambahnya.
Sadat melanjutkan, meskipun kelanjutan liga dipastikan akan mengurangi kualitas, namun itu yang terbaik untuk saat ini.
"Tujuan utamanya bagaiman liga dilanjutkan agar menghasilkan juara, walau dalam prosesnya tidak ada lagi degradasi atau promosi. Ini akan mengurangi kualitas liga," imbuhnya.
Terkait keputusan klub dari luar Pulau Jawa harus bermarkas di Yogyakarta, menurutnua itu adalah sebuah keputusn yang harus diterima, karena pemerintah sudah menetapkan protokol dalam pertandingan.
"Sebagai suporter tentu merugikan, artinya euforia sepak bola tak ada lagi karena tanpa penonton kemudian akan berdampak bagi psiko pemain, tak ada dukungan, dan tentunya manajemen akan mengeluarkan biaya tak sedikit, dibanding main di kandang sendiri," tuturnya.
"Walau ada status kandang tapi kan tidak ada pemasukan. Tapi semoga saja ada kesepakatan antara pemain dan manajemen agar tak ada kerugian, tapi saya kira semua klub akan mengalami dampak, tapi klub dari luar Jawa tentu dampaknya lebih besar," tambah Sadat. (*)
Laporan Wartawan tribun-timur.com @Fahrizal_syam