Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Warga Hilang Ditemukan

Cerita Dibalik Hilangnya Warga Desa Baringan Mamasa, Sempat Bertemu To Pembuni

Dikaitkan dengan mimpi dan anjing yang kembali, ada kemungkinan Bongga memang tersesat di hutan dan mungkin saja sudah meninggal.

Tayang:
Penulis: Semuel Mesakaraeng | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN TIMUR/SEMUEL
Bongga warga Desa Baringan yang dinyatakan hilang sesaat setelah ditemukan KBO Intelkam, Iptu Muh Ilyas beserta tim pencarian 

TRIBUNMMASA.COM, PANA - Kabar menggegerkan terkait hilangnya Bongga, Warga Dusun Tetang, Desa Datubaringan, Kecamatan Pana', Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.

Bongga meninggalkan rumahnya pada Minggu 19 Juni 2020 lalu, sekira pukul 12.00 wita siang itu.

Bongga dinyatakan hilang pada 21 Juni setelah istrinya Tuduen melapor kepada kepala desa.

Kejadiannya berawal saat Bongga berniat mengangkut ramuan rumah berupa papan di hutan, di sekitar area perkebunan warga.

Karena hingga hari kedua tak juga kembali ke rumah, istri Bongga melaporkan kejadian itu kepada Kepala Desa setempat.

Sekira pukul 07.15 pagi keesokan harinya, masyarakat dan keluarga melakukan pencarian, tepat dihari ketiga.

Seminggu melakukan pencarian, korban hilang tak kunjung ditemukan.

Pencarian sempat dihentikan lantaran cuaca buruk dan korban dinyatakan sudah tidak bisa ditemukan.

Pencarian kembali dilakukan setelah gabungan Komunitas Pencinta Alam dan Polres Mamasa berinisiatif melakukan pencarian.

Alhasil, Hingga hari kesepuluh Bonggapun akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat.

Bongga ditemukan di hutan jauh dari area perkebunan di mana ia hendak mengangkut papan, pada Selasa (30/6/2020) sekira pukul 14.00

Saat ditemukan, Bongga dalam kondisi sehat dengan wajah yang sumringah menurut beberapa sumber yang dikonfirmasi.

Namun dibalik hilangnya Bongga ada cerita mistis yang ia alami selama 10 hari di hutan menurut cerita Kaur Bin Ops (KBO) Satintel Polres Mamasa, Iptu Muh Ilyas yang ikut dalam pencarian itu.

Diceritakan Ilyas, awal mula mendengar kabar hilangnya Bongga, diketahui dari beberapa anggota KPA Quarles.

Mendengar kabar itu Ilyas lalu meminta izin kepada Kapolres Mamasa untuk terlibat melakukan pencarian.

Tak butuh waktu lama, Muh Ilya akhirnya bergegas dan mengumpulkan personel, selanjutnya melakukan perjalanan dari Mamasa ke Kecamatan Pana' melalui jalur Kecamatan Sumarorong-Nosu.

"Hari selasa 29 Juni sekitar pukul 15.00 kami tim melakukan persiapan. Tidak lama, kami berangkat dan tiba di Sumarorong sekira pukul 17 sore.

Kami lanjutkan perjalanan ke Kecamatan ke Pana lewat Kecamatan Nosu, tiba di Pana' di rumah kepala desa sekira pukul 22 malam," terang Muh Ilyas keadapa Tribunmamasa.com di salah satu mini market, Kamis (2/7/2020) siang.

Setiba di Pana kata Ilyas, ia mencoba menggali cerita terkait hilangnya Bongga.

Kata Ilyas, dibalik hilangnya Bongga ada cerita yang menarik lantaran saat meninggalkan rumah, ia pergi bersama seekor anjing peliharaannya. Tetapi anjing itu kembali setelah tiga hari di hutan.

Menurut Ilyas, sebelum akhirnya dinyatakan hilang, di hari pertama ia masih sempat makan siang bersama salah satu warga di sekitar kebun.

"Menurut cerita istrinya, tidak seperti biasanya dia bawa bekal saat ke hutan. Jadi bekal itu yang dia makan," tutur Ilyas.

Saat makan lanjut Ilyas, seorang warga yang sempat makan siang bersama Bongga bercerita bahwasanya Bongga sempat mimpi bertemu seorang wanita cantik.

"Yang terakhir bertemu Bongga ini bercerita kalau dia mimpi semalam ketemu sama wanita cantik," kata Ilyas.

Setelah menggali cerita awal Bongga hilang, Ilyas mengaku menyimpulkan ada hal tidak wajar terkait hilangnya Bongga, dikaitkan anjingnya yang kembali dan mimpi bertemu wanita.

"Anjing kalau kembali sementara tuannya tidak kembali, kecuali orangnya tiba-tiba hilang, tentu itu pertanda tidak baik," ujarnya.

Soal mimpi wanita cantik, kata Ilyas, itu pertanda sungai. Sementara di sekitar lokasi tempat Bongga hilang, ada beberapa aliran sungai.

"Biasanya kalau orang tersesat di hutan, pasti mencari sumber air," kata Ilyas bercerita.

Dikaitkan dengan mimpi dan anjing yang kembali, ada kemungkinan Bongga memang tersesat di hutan dan mungkin saja sudah meninggal.

Ilyas lanjut bercerita, keesokan harinya tepat 30 Juni 2020, ia dan tim pencari bersiap melakukan pencarian.

Sebelum melakukan pencarian, kepala desa setempat kata dia, memberitahukan jika di atas puncak gunung lokasi Bongga hilang, terdapat cehekdam.

Tidak menunggu waktu lama, Ilyas dan rombongan memutuskan untuk mendatangi lokasi chekdam tersebut.

"Setelah tiba di atas, saya kaget karena chekdam yang dimaksud ternyata kering, tidak ada airnya.

Padahal menurut warga, tidak biasanya chekdam itu kering, apa lagi di musim hujan. Meskipun kemarau, tidak pernah kering," lanjut Ilyas.

Meski demikian, Ilyas mengaku menyisir lokasi itu untuk melakukan pencarian, sembari memikirkan apakah pencarian akan dilanjutkan atau tidak.

"Di situ saya bagi dua tim, warga setempat melakukan pencarian arah pulang di jalur yang berbeda, sementara saya dan tim KPA menyusuri sungai ke arah Nosu," tandasnya.

Singkat cerita lanjut Ilyas, sebelum melakukan pencarian, ia dan tim beristirahat.

Sembari beristirahat, salah satu dari warga yang ikut dalam tim pencarian menebang pohon.

Kata Ilyas, setelah pohon itu tumbang, ia sempat melarang warga namun karena sudah terlanjur.

Sehingga ia bergegas pergi meninggalkan lokasi itu.

Setelah meninggalkan lokasi itu, beberapa saat kemudian, Bongga akhirnya ditemukan.

"Waktu kami temukan, Bongga mengaku mendengar dentuman pohon tumbang hingga akhirnya tersadar.

"Karena mendengar pohon itu, ia berteriak dan akhirnya tim pencari yang bersama dengan kepala desa mendengar teriakannya," sambungnya.

Saat ditemukan kata Ilyas, Bongga dalam kondisi kuat, hanya terlihat kurus karena kekurangan asupan makanan.

Menurut Bongga seperti diceritakan Ilyas, selama 10 hari di Hutan, Bongga hanya bis bertahan hidup dari buah kayu, dan air yang ia minum air yang diperas dari lumut.

Anehnya kata Ilyas, selama di hutan, Bongga tinggal bersama dengan seorang pria dan wanita cantik yang diduga To Pembuni.

Bahkan kata dia, Bongga tinggal bersama pria dan wanita itu sembari berkebun.

"Menurut ceritanya, waktu awal dia tersesat, saat itu Bongga hendak mengambil papan namun jalan yang dia lalui terlihat bagus, seperti sedang bermimpi.

Ia terus menyusuri jalan itu, hingga tidak tahu jalan pulang," terang Ilyas.

Selama di hutan, Bongga kata Ilyas, kerap ingin pulang, namun seperti di alam bawah sadar, sehingga tidak melihat jalan pulang.

Bahkan selama di hutan ia mendengar warga kampung sedang melakukan pesta.

"Setiap mau pulang, kalau bukan hujan deras, pasti kabut tebal makanya tidak bisa kembali.

Jadi makanya waktu ditemukan, dia tinggal di bawah pohon besar yang rindang," tukasnya.

Anehnya lagi, dia bilang selama di hutan itu dia berkebun, bahkan dia tunjukkan lokasi ia berkebun tapi yang ada hanya hutan lebat," sambung Ilyas.

Menurut Ilyas, Bongga tersesat diduga karena To Pembuni, dimana To Pembuni menurut kepercayaan masyarakat setempat merupakan mahluk berwujud manusia yang hanya dapat dilihat oleh orang tertentu saja.

To Pembuni berasal dari dua suku kata yakni To dan Pembuni yang berarti orang yang bersembunyi.

Konon, To Pembuni wujud manusia yang mendiami hutan dan hanya bisa dilihat oleh orang tertentu.

Sejak dahulu, To Pembuni di Sulawesi Barat, khususnya di Kabupaten Mamasa, keberadaannya masih ada dan berbaur dengan masyarakat pada umumnya hanya saja tidak terlihat, sehingga disebut To Pembuni atau orang yang bersembunyi.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved