Pertanian Unibos

Webinar Prodi Agribisnis Unibos Bahas Strategi Peningkatan Ketersediaan Pangan di Era New Normal

Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Unibos gelar webinar nasional membahas peningkatan ketersediaan pangan di era new normal.

Penulis: Alfian | Editor: Hasriyani Latif
Agribisnis Unibos
Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Bosowa (Unibos) gelar webinar nasional membahas peningkatan ketersediaan pangan di era new normal akibat pandemic Covid-19, Senin (29/6/2020). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Bosowa (Unibos) gelar webinar nasional membahas peningkatan ketersediaan pangan di era new normal akibat pandemic Covid-19, Senin (29/6/2020).

Empat narasumber dihadirkan yakni Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian RI, Dr Nasrullah, dan Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Kementrian Pertanian RI, Dr Siti Munifah.

Kemudian Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Selatan, Ir Fitriani, dan Dosen Prodi Agribisnis Unibos, Dr Aylee Christine.

Webinar ini dilaksanakan secara daring dengan menggunakan aplikasi Zoom, Youtube, dan Facebook Unibos yang diikuti 1.165 peserta dari kalangan dosen, mahasiswa, dan masyarakat secara umum se-Indonesia.

Sebagai narasumber pertama, Dr Nasrullah sebagai perwakilan Pemerintah Pusat menegaskan jika ketersediaan pangan utamanya daging sapi dan kerbau masih aman bahkan berstatus surplus di tahun 2020 ini.

“Melihat neraca yang ada surplus kita mencapai 300 ribu ton, era covid ini terjadi penurunan konsumsi sebanyak 36 persen,” katanya.

Terjadinya surplus ini tak terlepas dari berkurangnya jumlah konsumsi selama pandemic Covid-19.

Permintaan dari restoran hingga konsumsi rumah tangga mengalami penurunan hingga 36 persen.

Hanya saja Nasrullah menerangkan bahwa perlu dilakukan antisipasi mengingat pandemic belum bisa diprediksi kapan berakhirnya.

Tak hanya itu WHO telah memberikan peringatan bahwa mulai akhir tahun 2020 ini akan terjadi krisis pangan lantaran memasuki situasi iklim kemarau panjang.

“Ancaman krisis pangan ada warning dari WHO, dimulai akhir tahun ini dan tahun depan disebabkan oleh situasi iklim kemarau panjang. Artinya ada juga masalah ekspor terkait masalah global saat ini mengenai warning dari WHO, semua negara menjaga ketersediaan pangan dalam negeri,” sambungnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut Kementerian Pertanian telah menyiapkan sejumlah strategi, mengingat masalah utama yang muncul saat ini yakni produksi dan suplai pangan yang terganggu.

“Yang kita dorong yakni menyiapkan lumbung-lumbung  angan mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan hingga di desa-desa minimal 30 ton ada di desa-desa, karena bisa saja di sulsel ketersedian pangan banyak, beras, ayam, telur dan daging tapi di daerah lain tidak karena ini persoalan akses yang terbatas dalam suplainya,” paparnya.

Sementara itu Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Selatan, Ir Fitriani, juga mengklaim bahwa ketersediaan pangan di Sulsel masih terjamin.

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved