Politani Pangkep

4 Jurusan di Politani Pangkep Gagas Kolaborasi Drone dan Kecerdasan Artifisial Prospek Teknologi 4.0

Semakin memasuki era Revolusi Industri 4.0 fungsi drone menjadi sangat beragam. Bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para petani, nelayan dan petambak.

dok diplomat success challenge
Irendra Radjawali, praktisi dan perakit drone murah sebagai solusi problem sosial dan lingkungan 

TRIBUN-TIMUR.COM - Empat jurusan yang dinaungi Politeknik Pertanian Negeri Pangkep (PPNP) atau akrab dikenal Politani Pangkep menggagas kolaborasi teknologi drone hingga kecerdasan artifisial sebagai Prospek Teknologi 4.0.

Gagasan tersebut muncul setelah ketua jurusan penangkapan ikan, agribisnis perikanan, teknologi pengolahan hasil perikanan, dan budidaya perikanan mengikuti diskusi Virtual yang difasilitasi PT Mata Langit Nusantara, pertengahan Juni 2020 lalu.

Politani Pangkep Terapkan Teknologi Tepat Guna Pembuatan Tepung Ubi Ungu di Desa Callaccu, Barru

Tim Politani Pangkep Latih Warga Barru Budidaya & Cara Penyulingan Tanaman Nilam, Ini 10 Manfaatnya

Partisipan dari kampus Politeknik Pertanian Negeri Pangkep (PPNP) yakni Dr Mauli Kasmi (Agribisnis Perikanan), Dr Andi Ridwan Makkulawu (Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan), Dr Ardiansyah (Budidaya Perikanan), dan Samsul Marlin Amir MSi (Penangkapan Ikan).

Diskusi Virtual menghadirkan Dr Irendra Radjawali (Dosen Post Doctoral Uni Eropa dan Inggris). Radja tak lain salah satu perancang pesawat tanpa awak atau dikenal drone dengan dengan biaya murah. Diskusi dimoderasi Irwan.

“Banyak ilmu dari diskusi virtual yang difasilitasi Mata Langit. Sungguh kita di empat jurusan di Politani Pangkep seperti terbuka untuk mengagas pemanfaatan teknologi drone,” kata Mauli Kasmi dalam rilis ke tribun-timur.com.

Dikutip dari kompas.com, Radja –sapaan akrab Irendra Radjawali menamatkan pendidikan tingginya di Institut Teknologi Bandung (ITB), Fakultas Teknik Sipil, pada 2002.

Pada 2004, laki-laki kelahiran Malang, 8 September 1974, itu kemudian melanjutkan studi S-2 planologi di perguruan tinggi yang sama (2004). Setahun kemudian, Radja mendapat beasiswa ke Perancis.

Tamat dari Perancis, pada 2008, dia juga menerima beasiswa ke Jerman (2008) untuk belajar S-3 mengenai ekologi politik. Selesai tamat S-3, Radja mengerjakan beberapa proyek pemetaan kawasan di Kalimantan.

255 Asesor dari 15 LSP se-Sulselbar Ikuti Workshop Asesor yang Digelar LSP Politani Pangkep

Tim Peneliti Politani Pangkep Kembangkan Produk Teknologi Kemasan Telur di Desa Pallantikang, Gowa

Saat itulah, dia melihat kebutuhan untuk bisa memanfaatkan drone, sebelum akhirnya menemukan jalan yang lebih terbuka lebar lewat DSC.

Radja dengan drone kemudian memenangi Wismilak Diplomat Success Challenge (DSC) 2015 lalu. Dia memenangi kompetisi itu lewat desain MATA atau Mesin Terbang Tanpa Awak atau drone.

Halaman
1234
Penulis: Andi Muhammad Ikhsan WR
Editor: Arif Fuddin Usman
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved