OPINI

Asal Usul Lontaraq Makassar, Daeng Pamatte Terinspirasi dari Gerakan Burung

Catatan Festival Aksara Lontaraq 2020 dari Yudhistira Sukatanya, Pengurus DKM Sulsel dan Praktisi Kesenian

HANDOVER
Yudhistira Sukatanya (kanan) dan Soeprapto Budisantoso (kiri), seniman Makassar 

Catatan Festival Aksara Lontaraq 2020

Oleh: Yudhistira Sukatanya
Pengurus DKM Sulsel dan Praktisi Kesenian

Suatu hari pada awal Abad XVI. Sombayya ri Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Manguntungi, yang bergelar Karaeng Tumapa'risi' Kallonna dilanda gelisah.

Ia menyadari imperiumnya kian luas dengan rakyat yang semakin banyak dan beragam. Gowa kian berpengaruh dan mencapai era kejayaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk menjalankan pemerintahan Kerajaan Gowa dengan lebih efektif dan efisien diperlukan penataan lebih baik.

Daeng Pamatte, Sabbanara - Syahbandar yang merangkap jabatan Tumailalang - Menteri urusan istana dan dalam negeri kerajaan Gowa ke Ballak Lompoa.

Ia di panggil menghadap ke Istana, Balla Lompoa.

Di hadapan Sombayya- pejabat kelahiran Lakiung itu melihat raut gelisah Sombayya, mendesaknya; “ Punna niyak seke-seke, Makkana Maki Kareng na Ikambe Mappajari”- Kalau ada kegelisahan, bertitahlah Karaeng dan kami akan mewujudkannya.

Fakta-fakta Baco Bolong di Luwu Potong Telinga Istrinya hingga Putus, Begini Kondisi Korban Sekarang

Sombayya menginginkan agar peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Kerajaan Gowa, apa yang diucapkannya, diumumkannya dapat dicatat dengan baik.

Tujuannya agar hal tersebut dapat terdokumentasikan dan dijadikan pegangan dasar pengambilan kebijakan. Bekal ilmu pengetahuan bagi generasi mendatang.

Halaman
1234
Editor: Jumadi Mappanganro
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved