Tribun Wajo

Soal Handsanitizer Dijual ke Sekolah Rp 100 Ribu Per Botol, Ini Kata Disdikbud Wajo

Olehnya, Pelita Hukum Independen (PHI) mengadukan hal itu ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Wajo, Rabu (17/6/2020).

TRIBUN-TIMUR.COM/HARDIANSYAH
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wajo memberikan klarifikasi di DPRD Wajo perihal pengadaan handsanitizer ke sekolah-sekolah, Rabu (17/6/2020). 

TRIBUNWAJO.COM, SENGKANG - Di masa pandemi Covid-19, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wajo mengadakan handsanitezer ke setiap sekolah.

Harganya pun dinilai tak masuk akal, Rp 100.000 per botol ukuran 100 ml.

Olehnya, Pelita Hukum Independen (PHI) mengadukan hal itu ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Wajo, Rabu (17/6/2020).

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wajo, Faisal menyebutkan, jika pihaknya telah menegur distributor lantaran harga yang ditawarkan dianggap terlalu mahal.

"Persoalan handsanitizer bukan markup karena mereka hanya menjual dan Dikdisbud tidak boleh melarang hal tersebut, namun kami telah melakukan teguran secara lisan kepada penjual tersebut (pihak ketiga) dengan alasan barang terlalu mahal," kata Faisal.

Faisal berdalih, hingga saat ini belum ada keluhan dari kepala sekolah, baik tingkat sekolah dasar (SD) yang jumlahnya sekitar 358 sekolah, maupun sekolah menengah pertama (SMP) sekaitan pengadaan handsanitizer itu.

"Apa yang menjadi aspirasi PHI akan kami ditindaklanjuti, karena sampai saat ini kepala sekolah belum pernah melaporkan kepada kami," katanya.

Program pengadaan handsanitizer ini dianggap janggal, selain harganya terlamapu mahal, juga targetnya ke siswa-siswa yang notabenenya mereka libur selama pandemi Covid-19.

Wacana berkembang, ada oknum di tubuh Disdikbud sendiri yang melakukan intervensi dengan mengatasnamakan Kejaksaan, DPRD, bahkan Inspektorat.

Sementara, Kepala Bidang Pembina Sekolah Dasar Disdikbud Kabupaten Wajo, Ansar Mallo yang sempat dituding melakukan intervensi terhadap sekolah-sekolah berkilah.

"Saat ini banyak sekolah yang mengembalikan barang tersebut dikarenakan tidak sesuai, dan ini membuktikan bahwa tidak ada paksaan dan intervensi kepada pihak kepala sekolah dari pihak pembina sekolah," katanya.

Penulis: Hardiansyah Abdi Gunawan
Editor: Sudirman
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved