Tribun Wiki
Jadi Nama Rumah Sakit di Luwu, Siapa Sebenarnya Batara Guru?
Batara Guru adalah nama sebuah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) milik Pemerintah Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
Penulis: Chalik Mawardi | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUNLUWU.COM, BELOPA UTARA - Batara Guru adalah nama sebuah rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
RSUD Batara Guru berada di Jl Tomakaka, Desa Lebani, Kecamatan Belopa Utara, Luwu.
Merupakan rumah sakit terbesar yang ada di Bumi Sawerigading.
RSUD ini tengah dipimpin oleh dr Daud Mustakim selaku direktur.
Dikutip TribunLuwu.com dari beberapa sumber, Kamis (11/6/2020) Batara Guru diketahui merupakan Datu atau Raja Luwu yang pertama.
Batara Guru bergelar To Manurung dan merupakan Pajung.
Bicara tentang kerajaan Luwu, belum ada sumber akurat yang bisa menjelaskan secara pasti tahun didirikannya kerajaan tersebut.
Kerajaan Luwu baru terungkap secara resmi setelah ditulis oleh Prapanca pada saman Gajah Mada tahun 1364 M.
Dalam bukunya Negarakertagama, ia menyebut kerajaan Luwu bersamaan dengan kerajaan yang ada di Sulawesi sebagai fase periode kerajaan di Nusantara.
Tetapi jika bersumber dari data ini maka kerajaan Luwu itu berawal dari Simpurusiang.
Padahal dalam sumber I Lagaligo diterangkan pemerintahan kerajaan Luwu pernah dibawah raja yang bernama Batara Guru dan Batara Lattu.
Kerajaan Luwu juga diperkirakan seumuran dengan kerajaan Sriwijaya dan kerajaan lain di Jawa.
Dari perkiraan itu sehingga ada yang menduga bahwa kerajaan Luwu sudah ada pada abad ke-10.
Jika menghitung mundur dari masa pemerintahan Simpurusiang atau Raja Luwu ke-3 yang berkuasa pada tahun 1268.
Adanya jarak kekosongan pemerintahan selama 300 tahun maka besar kemungkinan masa pemerintahan Batara Lattu berakhir pada tahun 948 M
Dalam buku Sarita Pawiloy-Ringkasan, sejarah Luwu dikatakan bahwa Batara Lattu memerintah selama 20 tahun.
Dari sumber ini dapat disimpulkan bahwa Batara Guru memerintah pada tahun 900 lebih jika menghitung mundur lagi dimasa pemerintahan Batara Lattu.
Dalam I Lagaligo yang merupakan sumber tertua sejarah Luwu yang dikumpulkan oleh sarjana Belanda BF Matthes tahun 1880, disebutkan bahwa yang pertama mendirikan pusat kerajaan Luwu atau Ware di sekitar Ussu bernama Batara Guru.
Batara Guru adalah anak lelaki tertua dari To Patotoe dengan Datu Palinge.
Batara Guru dikisahkan sebagai manusia jelmaan dari dewa yang diturunkan oleh Patotoe ke bumi dimana pada saat itu terjadi kekosongan.
Dalam penafsiran kata kosong oleh para sejarawan bermakna kekosongan pemerintahan yang mengatur kehidupan manusia dari kekacauan atau sianre bale di Tana Ware.
Adapun latar belakang diturunkannya Batara Guru ke Bumi dapat diketahui dalam kitab I Lagaligo sebagai berikut:
"Empat manusia dewa sebagai abdi dikerajaan langit, sepulang dari taruhan permainan badai, petir, dan guntur melapor kepada baginda raja penguasa kerajaan langit yakni dewa sang penentu Patotoe. Ampun baginda kami baru saja pulang dari dunia tengah (ale lino) kami melihat bumi dalam keadaan kosong."
Mendengar laporan para abdinya itu membuat raja Patotoe berpikir perlunya diutus salah seorang penghuni langit untuk diturungkan ke bumi agar bisa memakmurkan bumi.
Selain itu agar bisa berketurunan dan kelak ada yang mengirimkan doa kepada dewata dikala senang maupun sulit.
Karena Patotoe merasa ini adalah hal yang penting untuk kelangsungan hidup di bumi dan langit.
Maka Raja Patotoe mengundang seluruh kerajaan dewa yang ada di kerajaan langit (boting langi) maupun kerajaan dasar laut (paratiwi/uri liu) untuk memutuskan siapa yang akan di utus turun ke bumi.
Dari kesepakatan antara pasangan raja Patotoe dengan istrinya Datu Palinge maka diputuskanlah bahwa putranya yang bernama La Toge Langi yang kemudian dikenal dengan nama Batara Guru.
Dalam cerita selanjutnya Batara Guru pun diturunkankan ke bumi.
Konon dalam cerita bahwa Batara Guru dimunculkan dari balik rumpun bambu, kemudian disusul turunnya hak warisan berupa bekal kehidupan termasuk istana disekitar kampung Ussu yang kala itu masih hutan rimba.
Dimana dari tempat ini menjadi awal mula pemerintahan Ware setelah Batara Guru bertemu dengan istrinya yang bernama We Nyiliq Timo yang masih merupakan sepupunya yang berasal dari kerajaan laut (para tiwi).
We Nyiliq Timo muncul di Busa Empong dan dperkirakan muncul di teluk Ussu waktu dipertemukan dengan Batara Guru.
Dalam sumber lain dikatakan bahwa disamping menikahi We Nyiliq Timo, Batara Guru juga menikah We Saungriu.
Dari perkawinannya itu lahir Sangian Sari.
Tetapi putri ini mati muda dan dikisahkan bahwa dari perabuan Sangian Sari tumbuh padi pertama di Luwu.
Dalam sejarah digambarkan bahwa sebelum Batara Guru diturunkan di bumi, situasi masyarakat Bugis Kuno hidup dalam ketidak teraturan.
Mereka saling menyerang tanpa aturan yang jelas, situasi tidak aman, yang kuat memangsa yang lemah atau sianre bale.
Akibat dari ketidak teraturan itu maka masyarakat sangat merindukan kedamaian.
Disaat masyarakat mengalami keterasingan jiwa, Batara Guru hadir membawa ajaran kebenaran yang menyankut hal hal prinsif seperti "Adele, Lempu, Tongeng, dan Getteng".
Ajaran tersebut sangat didukung oleh situasi sehingga membuat ajaran dan segala kebijakan pada pemerintahan Batara Guru sangat efektif di masyarakat.
Sosok seorang Batara Guru digambarkan oleh masyarakat itu amat dihormati, karena disamping sebagai titisan manusia dewa, ia amat bijak dalam memerintah dan mempunyai tenaga yang kuat dan pemberani dalam melindungi penduduk.
Hal ini diturunkan atau diwariskan secara tutun temurun kepada pemimpin masyarakat bugis yang dituangkan dalam simbol "Pedang Emas, Payung Kerajaan, dan Perisai".
Dari pernikahannya dengan We Nyiliq Timo, Batara Guru dikarunia seorang anak bernama Batara Lattu.
Ia merupakan calon pemegang tahta kerajaan Luwu setelah Batara Guru.
Ia dilahirkan di istana Ware di lokasi segita (Bukit Finsemouni-Ussu-Cerekan).
Dalam sumber sejarah dikatakan bahwa ketika Batara Lattu cukup dewasa dan pemerintahan tegak kembali.
Batara Guru memutuskan untuk kembali ke kerajaan langit.
Kekuasaan Ware pun diserahkan kepada Batara Lattu dan tetap dianggap sebagai dewa.(*)
Laporan Wartawan TribunLuwu.com, Chalik Mawardi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/rsud-batara-guru_20160628_153446.jpg)