Breaking News:

PHRI Sulsel Minta Pemerintah Bantu Hidupkan Roda Bisnis Hotel dan Restoran

Hanya saja, peran pemerintah sebagai panglima dan menentukan kebijakan sangat dibutuhkan.

Penulis: Sukmawati Ibrahim | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN TIMUR/M ABDIWAN
Suasana bincang-bincang secara virtual di acara Tribun Business Forum dengan tema Beradaptasi di Era New Normal, Kamis (4/6/2020). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulawesi Selatan (Sulsel) siap beradaptasi pada situasi new normal selama dan setelah pandemi covid-19.

Hanya saja, peran pemerintah sebagai panglima dan menentukan kebijakan sangat dibutuhkan.

Hal ini disampaikan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel, Anggiat Sinaga saat menjadi salah satu narasumber di Tribun Business Forum dengan tema Beradaptasi di Era New Normal, Kamis (4/6/2020).

Disaksikan secara virtual oleh tiga narasumber lainnya, yakni Ketua REI Sulawesi Selatan M Sadiq,
Ketua Apindo Kota Makassar Muammar Muhayang dan
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin Andi Nur Baumassepe Mappanyompa, Anggiat membeberkan kondisi puluhan hotel di Sulsel terpaksa tutup sementara akibat Corona.

Dari 50 yang tutup sejak akhir Maret, hanya 15 hotel yang mulai beroperasional kembali menyambut era baru. Sementara hotel yang survive sejak awal okupansinya masih di bawah 5 persen.

"Okupansi hotel di Sulsel, khususnya Kota Makassar masih di angka 2-3 persen dan ini belum cukup memenuhi operasional kami. Contohnya saja Claro Makassar, jika dulunya hotel ini ramai oleh acara wedding, menginap, meeting dan sebagainya kini kosong, lantas bagaimana hotel bisa terus bertahan," katanya.

Bahkan, kata Anggiat, Claro Makassar sudah jor-joran keluar dari tupoksi nya sebagai tempat menginap dengan menghadirkan berbagai inovasi.

"Bayangkan, hotel biasanya tempat menginap, meeting atau bikin acara berskala besar kini harus banting stir jual saos, jual paket barbeque dan sebagainya. Kenapa bisa begitu, karena orang takut menginap, takut meeting karena tidak ingin terpapar Corona. Padahal, hotel menerapkan protokol kesehatan sesuai SOP sehingga tidak ada yang bisa dikhawatirkan," bebernya.

Olehnya itu, menurut Anggiat, peran pemerintah sebagai panglima sangat dibutuhkan dalam situasi ini. Dalam artian bukan memberikan bantuan materi atau uang kepada industri hotel, melainkan stimulus yang dapat menarik minat masyarakat datang ke hotel.

"Pemerintah harusnya melonggarkan aktivitas meeting, menginap, wedding di hotel-hotel. Jangan takut ke hotel, kami siapkan wastafel cuci tangan, sabun, handsanitzer, penyemprotan disenfektan, alat cek suhu tubuh. Karyawan kami pakai masker, sarung tangan dan APD lainnya dalam melayani, standar ini bahkan sudah lama diterapkan. Jadi apa yang ditakutkan, pemerintah harus peka dengan kondisi ini, kalau tidak bagaimana kami bisa memberi sumbangsi untuk perekonomian Sulsel," tuturnya.

Anggiat berharap, pemerintah berperan penting dalam kondisi ini. Sebab meskipun New Normal diterapkan jika banyak hal yang masih dibatasi maka hotel-hotel akan terus tiarap bahkan terancam tutup permanen. PHRI Sulsel Minta Pemerintah Bantu Hidupkan Roda Bisnis Hotel dan Restoran, Ini Penjelasan Anggiat Sinaga

Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved