Covid 19

VIRAL Cerita Gadis Ngaku Dibohongi Tim Gugus Covid-19 Agar Ibunya Dikubur ala Corona padahal Negatif

Viral Cerita Gadis Ngaku Dibohongi Tim Gugus Covid-19 Agar Ibunya Dikubur Secara ProtokolCorona padahal hasil Swab Negatif

facebook
pasien strpke dimakamkan secara covid-19 bikin keluarga marah 

TRIBUN-TIMUR. COM, MAKASSAR - Seorang gadis muda Andi Esa Abram meluapkan kekecewaan di facebook atas perlakuan yang diterima keluarganya dari tim Gugus Tugas Covid 19 Sulawesi Selatan dan pihak rumah sakit Bhayangkara Makassar.

Andi Esa adalah putri dari Nurhayani (48) pasien yang meninggal karena stroke lalu kemudian dimakamkan dengan protokoler Covid-19.

Nurhayani meninggal 15 Mei lalu dan dikubur di pemakaman khusus Covid-19 Macanda Gowa tanpa persetujuan keluarga.

Dalam postingannya di facebook (3/6/2020), Andi Esa menceritakan dirinya telah dibohongi oleh tim gugus covid-19 dan dokter yang menangani ibunya.

Dia mengadang mobil ambulance, yang bakal mengangkut jenazah ibunya ke Macanda.

Putri Nurhayani, terlihat naik ke bagian depan mobil, meminta agar jenazah ibunya tak dibawa ke Macanda.

Info Keluarga Pasien Disogok Agar Jenazah Dikubur Secara Protokol Covid-19 Viral, ini Klarifikasi RS

Walau dia dan ayahnya sudah berusahan menghalangi pemakaman ala pasien Corona itu, namun dia mengaku justru mendapat perlakuan kasar dari petugas tim gugus covid-19.

Berikut kisah selengkapnya:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh
Ini kejadian kekejaman yang saya dapatkan dari tim medis dan tim gugus yang berbuat kasar kepada kami keluarga korban.
Ummi saya di Vonis PDP padahal meninggalkannya karena stroke disebabkan pembuluh darah pecah di otak sebelah kanan dan akan dimakamkan sesuai protokol covid.
Saya dan Etta (papa) berusaha untuk membawa ummi pulang kerumah dan ingin memakamkannya secara layak di kampung halaman kami (Bulukumba).
Didalam IGD tempat ummi meninggal, saya sudah memohon-mohon kepada tim gugus dan tim medis agar kami membawa ummi pulang, tapi mereka menolak.
Pada akhirnya Etta saya bersujud mencium sepatu pimpinan tim gugus untuk memohon tetapi mereka tetap menolak.
Malahan kami DIBOHONGI, tim gugus berusaha membujuk kami untuk membicarakannya baik2, dan tim medis ingin mengkafankan ummi.
Etta saya pun terbujuk dan keluar dari UGD untuk berbicara dengan tim gugus, sebelumnya Dokter (pak haji sebutannya) menjanjikan akan menyolatkan ummi dan tidak akan memasukkan ummi kedalam peti serta akan menunggu Etta saya kembali untuk melakukan sholat jenazah sama2.. namun semua itu bohong.
Ketika Etta saya sudah keluar, tinggallah saya dan para tim medis, mereka mulai melakukan proses pengkafanan dan ternyata ummi hanya di tayammum, diperlakukan seperti jenazah Covid di semprot disenfektan.
stelah dikafankan mereka mau memasukkan ummi kedalam peti, saya pun Menolak, bukan itu perjanjian diawal.
Sikap saya seketika kalah karena dihalangi oleh petugas gugus yg tiba2 datang menyeret saya jauh dari peti.. mereka memasukkan ummi kedalam peti dan menutupnya.
saya mencoba berlari ke peti tapi usaha saya sia-sia, tenaga saya kalah saya disekap tidak bisa bergerak, malah saya terseret jatuh ke lantai dan baju saya ditarik.
Mereka mulai melakukan sholat jenazah tanpa menunggu Etta saya. Mereka membohongi kami.
Mereka pun membawa peti tersebut sambil lari-lari dan saya dihalangi untuk mendekat saya terseret seret mengejar peti itu, saya berusaha bangun dan kembali berlari namun tetap dihalangi lagi.
Sampai didepan RS, saya melihat Etta saya sudah tidur dibawah mobil jenazah untuk memblok, ternyata Etta saya juga disekap dilarang lagi untuk masuk IGD sedari tadi.
adik saya Adel berusaha ingin mendekati peti karena tidak diizinkan masuk IGD sejak semalam untuk melihat ummi terakhir kalinya tetapi Adel di halangi polisi dengan tameng.
saya juga naik ke atas mobil berharap mereka akan memberikan jenazah ummi untuk kami bawa pulang kerumah, tetapi sekali lagi saya dikelitik diseret jatuh ketanah oleh petugas.
akhirnya mereka berhasil membawa ummi , mereka melaju dengan cepat. Etta saya mengambil motonya (N-max) dan membonceng kami (saya, Adel, Alya) untuk mengejar mobil jenazah tersebut, kami bonceng 4.. Hanya Allah SWT yang mampu melindungi kami agar tidak terjadi kecelakaan di jalan.
Setiba di tempat pemakaman, kami tidak diizinkan ikut melakukan proses penguburan, dan hanya bisa sampai di gerbang saja.
Mereka sungguh tidak ada hati nurani, mereka menguburkan jenazah yang jelas-jelas bukan Covid di penguburan khusus covid dan mempetikannya, Astaghfirullah.
Dan setelah melakukan pemakaman, mereka meninggalkan kami begitu saja, seandainya benar ummi kami PDP , tidak adakah tindakan dari tim medis kepada kami.. apalagi kepada saya ? Saya yang menemani ummi di RS hingga meninggal sampai mempertahankan ummi (memeluknya) agar tidak mereka bawa.
Saya menuntut keadilan untuk Ummi kami, kami ingin memindahkan jenazah ummi kami yang jelas-jelas NEGATIF Covid.. apa hak Mereka menahan jenazah ummi kami di penguburan itu .
Saya memohon kepada teman-teman yang membaca tulisan saya, tolong bantu kami , tolong kami mencari keadilan untuk ummi kami.

Tim Gugus Dilaporkan ke Polisi

Suami almarhumah, Andi Baso Ryadi Mappasulle, mengancam melaporkan tim Gugus Tugas Covid 19 Sulawesi Selatan ke polisi.

Halaman
1234
Editor: Ilham Arsyam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved