Forum Dosen Tribun Timur

Covid-19: Virus, Bisnis, atau Konspirasi? Ini Kata Prof Idrus Paturusi

Covid-19: Virus, Bisnis, atau Konspirasi? Ini Kata Prof Idrus Paturusi saat dialog virtual yang di Gagas Forum Dosen Tribun Timur

TRIBUN TIMUR.COM/ALFIAN
Prof Idrus Paturusi saat menjadi narasumber saat wawancara virtual eksklusif bersama Tribun Timur, Rabu (27/5/2020). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Mantan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Unhas Prof Idrus Paturusi angkat bicara mengenai rencana kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan pemerintah dalam menghadapi wabah Covid-19.

Menurut dia, kiranya para penentu kebijakan baik pusat, provinsi, hingga kabupaten dan kota bisa melibatkan para pakar kesehatan untuk memutuskan kebijakan.

"Sebelum memutuskan kebijakan, libatkan pakar pakar. Kita duduk bersama,  Jangan sampai langsung ok begini dan seterusnya," kata Prof Idrus, dalam dialog virtual membahas Covid : Virus, Bisnis, atau Konspirasi, yang di Gagas Forum Dosen Tribun Timur.

Bagi Prof IdrusPaturusi, Covid-19 adalah murni virus.

"Persepsi apakah Covid 19 itu virus atau bakteri, ataukah konspirasi dan bisnis? Jadi pertama-tama saya kira kalau mau sebut apakah itu bakteri atau virus, saya kira itu virus. Sepanjang ini, ahli-ahli di Amerika, China, dan Eropa sudah tahu bahwa itu virus bukan bakteri," ujarnya.

Kata bakteri lanjut Prof Idrus, kiranya perlu dibuang jauh, sehingga semua pihak bisa berpikir bagaimana bisa menerangi virus ini.

Mengenai apakah covid 19 konspirasi? mengenai itu ia menjelaskan bahwa saat ini sudah jauh hari sudah diketahui bahwa virus sudah merebak kemana mana, ke Amerika dan sudah banyak korban yang telah berjatuhan.

Tentu, hal tersebut kata dia membutuhkan kajian dalam dan pembuktian.

"Apakah ini konspirasi? Kita bisa buat pembuktian terbalik, sampai sekarang misal di Amerika begitu banyak orang yang meninggal, masa dia (Amerika) jika sudah tahu jauh sebelumnya, kenapa dia tidak mempersiapkan vaksinnya untuk atasi korban yang berjatuhan. Sementara itu, di China. Kalau kita melihat China sekarang walaupun dia yang pertama, namun korbannya lebih sedikit korbannya dari sejumlah negara lainnya. Nah, apakah kita bisa berpikir, memang dari China dan seterusnya. Saya kira sulit juga kita buktikan," paparnya.

Ia pun mengakui, praktisi medis pun sangat sulit untuk menemukan vaksinnya, serta membutuhkan waktu yang lama.

Halaman
123
Penulis: Saldy Irawan
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved