Forum Dosen Tribun Timur

Waketum Kadin Erwin Aksa Anggap Pemerintah Lambat Antisipasi Virus Corona

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (kadin) Indonesia, Erwin Aksa memaparkan data-data efek Covid-19 untuk ekonomi Indonesia.

Penulis: Muh. Hasim Arfah | Editor: Hasriyani Latif
Screenshot
Erwin Aksa_Waketum Kadin 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (kadin) Indonesia, Erwin Aksa memaparkan data-data efek Covid-19 untuk ekonomi Indonesia.

Hal ini dia sampaikan dalam Diskusi Virtual Forum Dosen Tribun Timur seri #4 yang mengangkat tema "Demi Pancasila! Covid-19; Virus, Bisnis atau Konspirasi?"

Diskusi ini bisa disaksikan langsung melalui Fanpage Tribun Timur dan akun YouTube Tribun Timur, Senin, (1/6/2020) pukul 15.30-17.00 Wita.

Hadi pembicara yakni Prof dr Irawan Yusuf PhD (Guru Besar FK Unhas), Prof Dr dr Idrus Paturusi (survivor +Covid-19), Erwin Aksa (Waketum KADIN Indonesia) dan Dinna Prapto Raharja PhD (praktisi Hubungan Internasional dan Kebijakan Publik (Synergy Policies)

Dr Adi Suryadi Culla memandu langsung acara ini. Erwin menyampaikan dampak Covid-19 membuat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) luar biasa, daya beli turun, permintaan menurun, dan produksi menurun.

Selanjutnya, dia menyampaikan, pertumbuhan ekonomi nasional saat berada diangka 2,3 persen.

"Proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menurut IMF yakni minus 3 persen," katanya.

Sementara itu, JP Morgan memperkirakan ekonomi dunia minus 1,1%, sementara Economist Intelligence Unit (EIU) memprediksi untuk minus 2,2%, sedangkan Fitch memproyeksikan ekonomi dunia untuk minus 1,9%.

Ia juga menyampaikan efek Covid-19 membuat pengangguran dan kemiskinan bertambah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2011 mencatat angka kemiskinan Indonesia mencapai 30,02 juta orang atau berada di level 12,49%.

Jika kembali pada tahun 2011, artinya angka kemiskinan tahun 2020 akan melonjak 4,88 juta dari jumlah kemiskinan pada Maret 2019 yang tercatat 9,41% atau 25,14 juta orang.

Jumlah angkatan kerja pada Februari 2020 sebanyak 137,91 juta orang, naik 1,73 juta orang dibanding Februari 2019.

Berbeda dengan naiknya jumlah angkatan kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) turun sebesar 0,15 persen poin.

"Singkat cerita, program pemerintah dana yang ingin digelontorkan dana penyelamatan ekonomi sangat sedikit dan kecepatan pengambilan keputusan sangat lambat," katanya.

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved