UIN Alauddin

Prof Qasim Harap Fikih Baru Pandemi Lahir dari Fakultas Ushuluddin UIN Alauddin

Prof Qasim memaparkan bahwa Virus Corona yang menimpa dunia memungkinkan terjadinya intervensi pada ibadah yang selama ini kita lakukan

Humas UIN Alauddin
Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Politik UIN Alauddin Makassar menggelar halalbihalal secara virtual. (Humas UIN Alauddin) 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Masih dalam Nuansa Idulfitri 1441 H, Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Politik UIN Alauddin Makassar menggelar halalbihalal.

Halalbihalal menghadirkan Prof Dr H Qasim Mathar, Guru Besar Pemikiran Islam sebagai pembawa hikmah halalbihalal dengan tema Ibadah dalam Sains dan Teknologi.

Halalbihalal yang dihadiri oleh puluhan sivitas akademika Fakultas Ushuluddin dan Filsafat baik dosen, mahasiswa, pegawai, hingga alumni ini dilaksanakan secara daring melalui apliksi Zoom.

Turut hadir dalam halalbihalal ini Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Dr H Hamdan Juhannis, beserta para Guru Besar dari Fakultas Ushuluddin ,serta Guru Besar UIN Alauddin Makassar lainnya.

Dalam paparannya, Prof Qasim memaparkan bahwa Virus Corona yang menimpa dunia memungkinkan terjadinya intervensi pada ibadah yang selama ini kita lakukan.

Baginya, intervensi ibadah itu sesungguhnya bukan hal yang baru dan telah lama terjadi dalam sejarah keberagaman ummat Islam.

Prof Qasim menyebutkan contoh di antaranya bahwa ketika dirinya melaksanakan ibadah haji, dia menyaksikan bagaimana penjual di sekitar Masjidil Haram tetap Salat berjamaah tanpa perlu masuk ke kompleks masjid.

"Mereka berjamaah dari tempatnya dengan mengikut imam yang didengarnya melalui pengeras suara yang ada. Atau model khutbah yang pernah terjadi di masa Rasulullah di mana khatib berdiskusi dengan jamaah Jum’atya," ujar Prof Qasim dalm rilis, Jumat (29/5/2020).

Ia mengatakan, intervensi ibadah akhirnya harus dilaksanakan di masa pandemi di mana berkumpul dianggap berpotensi memungkinkan penyebaran virus, dan di saat bersamaan kemajuan teknologi dapat dipergunakan.

"Akan tetapi, banyak orang yang seringkali menolak hal semacam ini karena ketidakfahamannya dan keterbatasan pemahaman fikih yang dimilikinya," ucap dia.

Halaman
12
Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved