Bukan Hanya di Sulsel, Gubernur dan Wali Kota di Daerah ini Juga Tak Sejalan soal Aturan Shalat Id

Rupanya selain di Sulsel, perbedaan aturan dua kepala daerah soal Salat Idulfitri juga terjadi di Nusa Tenggara Barat dan Bima.

Istimewa
ILUSTRASI-Gubernur NTB dan Wali Kota Bima Tak Sejalan soal Aturan Salat Idulfitri di tengah pandemi 

TRIBUN-TIMUR.COM-Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah dan Pejabat (PJ) Wali Kota Makassar, Yusran Jusuf memiliki kebijakan berbeda soal Shalat Idulfitri 1441 H di tengah Pandemi Corona saat ini.

Diketahui Nurdin Abdullah mengimbau warga agar melaksanakan Shalat Idulfitri di rumah saja untuk menghindari penyebaran Covid-19.

Sementara itu, Yusran Jusuf masih memperbolehkan Shalat Idulfitri di masjid asal mematuhi protokol kesehatan.

Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah dan PJ Walikota Makassar Yusran Jusuf berbeda soal kebijakan salat idulfitri
Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah dan PJ Walikota Makassar Yusran Jusuf berbeda soal kebijakan salat idulfitri (TRIBUN TIMUR)

“Imbauan shalat Id di rumah ini berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, Menteri Kesehatan, Menteri Perhubungan, Menteri Agama, Jaksa Agung, Panglima TNI, Kapolri, Kepala BIN, Kepala BNPB Selaku ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan para Gubernur Se-Indonesia,” kata Nurdin Abdullah dikutip dari Kompas.com, Rabu (20/5/2020).

Nurdin menjelaskan, tingginya kasus positif Covid-19 membuat masyarakat diminta melaksanakan shalat Id di rumah masing-masing.

"Sekiranya ada masyarakat yang tetap melaksanakan shalat Id, baik itu di lapangan atau di masjid, terutama daerah yang masih zona hijau atau terjadi perlambatan peningkatan, mohon Forkopimda dan Satpol PP untuk melakukan pengamanan dengan protokol kesehatan secara ketat," urainya.

Sementara itu, Pj Wali Kota Makassar Yusran Yusuf tidak melarang jika pelaksanaan shalat Idulfitri dilaksanakan di masjid.

“Kami tetap menyampaikan bahwa imbauan pemerintah agar melaksanakan salat Idulfitri di rumah masing-masing. Dan bagi saudara kita yang ingin melaksanakan di masjid, tentu harus diperhatikan betul bahwa jamaah dan lokasi kita harus menerapkan protokol kesehatan,” terangnya.

Menurut Yusran, pihaknya mulai dari level lurah bersama jajaran pengurus masjid bersinergi dan bertanggung jawab guna memastikan warga yang melaksanakan shalat di masjid aman dari virus corona (Covid-19).

“Tim gugus tugas harus datang sehari sebelum pelaksanaan dan pada saat pelaksanaan salat Ied untuk melakukan scanning, melakukan pengaturan sehingga protokol kesehatan benar-benar diterapkan. Masjid-masjid itu harus dilengkapi dengan tempat cuci tangan, pendeteksi suhu tubuh, dan jemaahnya wajib mengenakan masker,” jelasnya.

Halaman
1234
Editor: Anita Kusuma Wardana
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved