Rilis

Bupati: Ketersediaan Beras di Banyuasin Surplus

Dalam rangka memacu upaya produksi dan ketersediaan pangan, Bupati Banyuasin Askolani Jasi, menyampaikan kepada Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo

Humas Kementan RI
Bupati: Ketersediaan Beras di Banyuasin Surplus 

TRIBUN-TIMUR.COM - Dalam rangka memacu upaya produksi dan ketersediaan pangan, Bupati Banyuasin Askolani Jasi, menyampaikan kepada Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo laporan pertanaman dari area persawahan di Desa Gelebak Dalam di Kelompok Tani Sinar Tengkabu, Gapoktan Srikuto Parung saat dilakukan Video Conference beberapa waktu lalu. Di tengah pandemi virus corona, Askolani menyatakan petani tetap panen dan dilanjutkan tanam sehingga produksi padi Banyuasin surplus.

“Hingga saat ini aktivitas pertanian pangan khususnya usaha tani padi sawah masih berjalan normal, ada yang mulai tanam dan di tempat lain masih ada yang panen. Dari total luas lahan sawah di Banyuasin 174.371 hektar, hingga saat ini sudah ada realisasi tanam 202.737 hektar," demikian dikatakan Askolani di Banyuasin, Senin (18/5/2020).

Ia menyebutkan luas panen padi hingga pertengahan Mei 2020 ini mencapai 135.500 hektar. Selanjutnya terdapat juga pertanaman padi sawah yang belum panen masih seluas 67.237 hektar, panennya hingga bulan September 2020 untuk indek pertanaman (IP) 200 padi sawah di daerah pasang surut. Hingga bulan September juga akan terjadi panen padi sawah lebak 25.000 hektar.

“Untuk Produksi gabah dari luas panen hingga saat ini sebanyak 701.600 ton GKG (gabah kering giling, red) atau setara beras sebanyak 456.079 ton. Dilihat dari kecukupan bahan pangan khususnya beras, Kebutuhan masyarakat Banyuasin hingga bulan Mei ini hanya 40.302 ton beras,” beber Askolani.

Dengan demikian, Askolani menegaskan keadaan ini menggambarkan Banyuasin masih mengalami surplus beras sangat signifikan. Terkait harga, pada saat ini harga gabah berkisar Rp. 4.200/kg GKP dan Rp. 5.000/kg GKG. Sedangkan harga beras berkisar Rp. 8.300/kg.

Namun diakuinya ada dua hal yang menjadi catatan penting yang perlu di tingkatkan di masa yang akan datang yaitu produksi yang belum maksimal dan kualitas gabah di tingkat petani yang masih rendah.

“Untuk meningkatkan mutu gabah, kami memerlukan bantuan alat panen yang modern (combine harvester, red) dan alat pengering gabah (dryer, red),” harap Askolani.

"Panen dengan menggunakan combine memiliki beberapa keuntungan yaitu panen lebih cepat sehingga menghemat tenaga, biaya dan waktu serta mengurangi tingkat kehilangan gabah di lapangan," sambungnya.

Sebagai informasi bahwa di Banyuasin baru tersedia 135 unit combine harvester, tidak sebanding dengan 174.371 hektar luas lahan sawah. Dengan kondisi ini, Askolani menilai petaninya banyak mengalami kesulitan ketika panen. Panen sering terlambat karena hanya menggunakan sabit, dengan perontok gabah menggunakan alat perontok gabah sederhana power thresser.

“Akibatnya tidak sedikit gabah mengalami kerusakan dilapangan karena terlambat panen dan terlambat merontog gabah," cetus Askolani.

Halaman
12
Editor: Rasni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved