Tribun Wajo

Proyek Pengendalian Banjir di Wajo Rawan Diselewengkan

Salah satunya di Sungai Walannae, di Kelurahan Sompe, Kecamatan Sabbangparu, tahun anggaran 2020.

hardiansyah/tribunwajo
Proyek pembangunan pengendalian banjir Sungai Walennae, di Kelurahan Sompe, Kecamatan Sabbangparu, Kabupaten Wajo. 

TRIBUNWAJO.COM, SABBANGPARU - Sebagai salah satu kabupaten langganan banjir tahunan, Kabupaten Wajo cukup banyak keciprat anggaran penanganan banjir. Sayangnya, anggaran yang banyak itu rawan ditiliep oknum tak betanggungjawab.

Dugaan itu mencuat seiring ditemukannya sejumlah proyek pembangunan pengendalian banjir milik Proyek milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), satuan kerja (Satker) SNVT Pelaksana Jaringan Sumberdaya Air Pompengan Jeneberang Sulawesi Selatan.

Salah satunya di Sungai Walannae, di Kelurahan Sompe, Kecamatan Sabbangparu, tahun anggaran 2020. Proyek yang sementara dalam tahap pengerjaan itu diprediksi tidak bakal bertahan lama.

"Mana bisa batu yang berukuran kecil bisa menahan arus, saya pesimis tanggul itu bisa bertahan, padahal anggaran yang digelontorkan cukup besar," kata salah satu warga sekitar, Ambo Mai, Kamis (14/5/2020).

Proyek pembangunan pengendalian banjir Sungai Walannae, sendiri dikerjakan oleh PT Andyna Putri Pratama dan menelan anggaran dari APBN 2020, senilai Rp 14.241.557.730. Ambo Mai menduga, penggunanaan batu untuk tanggul penahan banjir itu tak sesuai dengan RAB dan rawan dikorupsi

"Ini perlu kita awasi bersama-sama, kita berharap dengan adanya proyek ini banjir yang tiap tahun datang bisa diminimalisir atau tidak ada lagi," katanya.

Sebelumnya, salah satu proyek pengendalian banjir di Sungai Bila, Desa Sappa, Kecamatan Belaqa juga disoroti pasca terjadi penyusutan. Proyek yang menggunakan APBN 2019, menelan anggaran Rp 9.900.000.000. Ambo Mai berharap, proyek yang ada di daerahnya tidak bernasib sama dengan yang ada di Kecamatan Belawa.

Konsultan teknik di Kabupaten Wajo, Irawan, yang dikonfirmasi menjelaskan beberapa hal mengenai proyek pembangunan pengendalian banjir. Salah satu pertimbangan yang mesti diambil adalah penggunaan batu gajah sebagai penahan tebing agar tanggul tetsebut tidak mudah terbawa arus atau mengalami penyusutan.

"Spesifikasi batu yang digunakan harus batu gunung yang berwarna hitam, sebab kekuatannya jauh lebih kokoh dibanding batu gunung yang kemerah-merahan seperti yang saat ini digunakan dalam proyek itu," katanya.

Hal lain, yakni kedalaman galian yang mesti menyeseuaikan dengan arus deras sungai, serta beberapa hal teknis lainnya. Sebagai seorang konsultan teknik, dirinya berharap agar proyek-proyek yang menyangkut kemaslahatan umat agar betul-betul diawasi secara ketat.

"Kalau ingin pekerjaannya bagus, butuh pengawasan yang intensif, pihak balai dan konsultan harus sering turun kelapangan memantau pembangunan proyek pengendalian banjir Sungai Walannae," tandasnya.

Penulis: Hardiansyah Abdi Gunawan
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved