Virus Corona
Pasien Corona di Singapura Capai 385, Tapi Nihil Kematian, Ini yang Dilakukan Pemerintahnya
Di antara ratusan negara yang terjangkit virus mematikan ini, beberapa negara tercatat masih nihil kasus kematiannya.
TRIBUN-TIMUR.COM - Virus corona terus mengganas di seluruh dunia. Hingga pukul 00.00 wita, jumlah kasus terinfeksi virus corona di seluruh dunia telah mencapai 259.009 kasus dengan 10.545 orang meninggal dunia dan 89.922 orang yang berhasil disembuhkan.
Dari sekian kasus tersebut, Italia tercatat sebagai negara dengan jumlah kematian tertinggi yakni, 3.405 orang. Disusul China dengan 3.248 orang.
Di antara ratusan negara yang terjangkit virus mematikan ini, beberapa negara tercatat masih nihil kasus kematiannya.
Salah satu negara tersebut adalah Singapura. Negara tetangga Indonesia.
Saat ini, Singapura mencatat 385 pasien terjangkit virus corona. Sebanyak 131 orang di antaranya, berhasil sembuh. Hari ini, ada 40 kasus baru warga Singapura yang terjangkit virus corona.
Namun sejauh ini, kasus kematian di negara Jiran ini masih nihil.
Bandingkan dengan Indonesia yang mencatat 369 kasus dengan jumlah kematian pasien mencapai 32 orang.
Lalu apa saja yang dilakukan Singapura sehingga bisa meminimalisir kasus kematian akibat terjangkit corona?
Singapura meningkatkan respons virus corona dengan mengambil langkah-langkah ekstrem.
Negara ini memahami implikasi penyebaran di kota berpenduduk padat.
Pada akhir Januari 2020, Singapura sempat menjadi negara dengan kasus virus corona terbanyak selain China.
Dikutip New York Times, intervensi adalah kuncinya. Selain itu penelusuran yang teliti, menjaga jarak sosial, dan karantina yang ditegakkan.
Semuanya dikoordinasikan oleh seorang pemimpin yang bertindak cepat dan transparan.
Singapura hanya butuh waktu dua jam untuk mengungkap rincian pertama tentang bagaimana pasien tertular virus corona dan orang yang mungkin mereka infeksi.
Pemerintah Singapura dapat dengan mudah mengetahui apakah mereka bepergian ke luar negeri? Apakah mereka memiliki hubungan ke salah satu dari lima kelompok (kluster) penularan yang diidentifikasi di seluruh negara? Apakah mereka batuk pada seseorang di jalan? Serta siapa teman dan keluarga mereka, serta teman minum dan rekan mereka dalam beribadah?
Di Singapura, informasi seperti detail tempat pasien tinggal, bekerja, dan bermain dirilis dengan cepat secara online.
Singapura memanfaatkan CCTV dan catatan imigrasi untuk mengungkapnya.
Selain itu Singapura memiliki 140 pelacak kontak yang menjabarkan riwayat kasus setiap pasien.
Mereka bekerjasama dengan polisi dan layanan keamanan setempat.
Pengendalian penyakit melanggar kebebasan individu. Tapi masyarakat Singapura mau menerima perintah atau aturan dari pemerintah untuk kesehatan bangsanya.
Masyarakat juga harus tertib mengikuti aturan yang dibuat pemerintah.
Hal itu memungkinkan orang lain melindungi diri mereka sendiri.
Pemerintah juga memiliki klinik khusus untuk epidemi.
Selain itu pemerintah mengeluarkan pesan resmi yang mendesak masyarakat untuk mencuci tangan dan mengatur tata cara bersin selama flu.
Kebijakan lain yang dibuat Singapura adalah pelarangan wisatawan mulai akhir Januari.
Singapura menjadi salah satu negara yang melarang wisatawan dari China.
Selain itu orang yang dekat dengan pasien dikarantina untuk membatasi penyebaran.
Di negara berpenduduk 5,7 juta orang itu, pemerintahnya mengembangkan kemampuan untuk menguji lebih dari 2.000 orang per hari.
Demikian juga perawatan medis untuk semua penduduk. Orang yang diketahui dekat dengan pasien dimasukkan ke dalam karantina wajib untuk menghentikan penularan lebih lanjut.
Hampir 5.000 orang telah diisolasi. Bagi mereka yang menghindari perintah karantina dapat menghadapi dakwaan pidana.(*/tribun-timur.com)