Pengungsi Dilarang Bekerja

Pengungsi Afghanistan di Makassar Kedapatan Kerja di Barbershop

Pengungsi dari luar negeri, dikutip dari rilis yang diterima tribun-timur.com, sesuai aturan yang berlaku di Indonesia, dilarang bekerja

Rudenim Makassar
Ali Agha setelah didapati oleh petugas Rudenim Makassar bekerja di tempat cukur rambut kawasan BTP Tamalanrea, Minggu (23/02/2020). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pengungsi asal Afganistan, Ali Agha (33 tahun) disuruh datang dan wajib lapor ke Rumah Detensi Imigrasi atau Rudenim Makassar.

Hal itu wajib dilakukan Ali Agha setelah didapati oleh petugas Rudenim Makassar bekerja di tempat cukur rambut kawasan BTP Tamalanrea, Minggu (23/02/2020).

Pengungsi dari luar negeri, dikutip dari rilis yang diterima tribun-timur.com, sesuai aturan yang berlaku di Indonesia, dilarang bekerja, sesuai peraturan Peraturan Direktur Jenderal Imigrasi.

Larangan bekerja bagi pengungsi tercantum dalam 'Surat Pernyataan Pengungsi' yang harus ditandatangani pengungsi bersertifikat UNHCR, sebagaimana yang tercantum dalam Lampiran Peraturan Direktur Jenderal Imigrasi Nomor: IMI-1489.UM.08.05 Tahun 2010 tanggal 17 September 2010.

"Sebenarnya ini adalah kali kedua petugas kami mendapati pengungsi ini bekerja di Barbershop, sebelumnya sudah kami peringati secara lisan, tapi sepertinya tetap bandel bekerja, " ujar Karudenim Makassar Togol Situmorang.

Berdasarkan pemantauan di beberapa akomodasi juga telah terpasang pemberitahuan terkait sejumlah kewajiban dan larangan bagi pengungsi termasuk salah satunya adalah larangan untuk melakukan pekerjaan yang mendapatkan uang.

"Penegasan terhadap surat pernyataan, telah kami tuangkan di pemberitahuan yang kami pasang di 23 akomodasi pengungsi di Makassar, termasuk sudah kami sosialisasikan secara lisan bulan lalu," lanjut Togol Situmorang.

Sementara itu saat dimintai keterangan oleh petugas Rudenim Makassar, Ali Agha membantah dirinya mendapatkan bayaran. Ia mengaku bahwa apa yang ia lakukan tidak memungut bayaran.

"Saya hanya mencukur rambut, tapi tidak memaksa meminta bayaran, kecuali sesama pengungsi mereka biasa memberi uang," katanya dengan bahasa Indonesia yang lancar.

Kemudian, terkait keterangan pengungsi, Karudenim menjawab bahwa petugas hanya diperintahkan untuk menyita dulu Kartu pengungsinya, selanjutnya pengungsi tersebut disuruh datang melapor ke Rudenim Senin (24/2/2020) guna diminta keterangan.

"Saat ini kami terus menerus memakai pendekatan persuasif untuk mengatasi persoalan pengungsi yang ada di Kota Makassar," tutup Togol.

Penulis: Arif Fuddin Usman
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved