Tribun Mamasa

Pengelolaan Pasar di Mamasa Kembali Menuai Sorotan

Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat mendekati usianya 18 tahun, namun pengelolaan pasar kian amburadul.

Pengelolaan Pasar di Mamasa Kembali Menuai Sorotan
TRIBUN TIMUR/SEMUEL MESAKARAENG
Pasar tradisional Barra-barra Mamasa tak kunjung difungsikan 

TRIBUNMAMASA.COM, MAMASA - Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat mendekati usianya 18 tahun, namun pengelolaan pasar kian amburadul.

Betapa tidak, di Kecamatan Mamasa sendiri terdapat tiga pasar, yakni satu pasar pemerintah dan dua pasar tradisional milik swasta.

Ironisnya, kedua pasar milik swasta itu berada di lokasi saling bersampingan di Desa Buntubuda, Kecamatan Mamasa tak jauh dari Kota Mamasa.

Sementara pasar tradisional milik rakyat yang dibangun pemerintah di tempatkan jauh dari ibukota kabupaten.

Dengan kondisi itu, pengelolaan pasr di Mamasa kerap menuai sorotan tak terkecuali, baik pedagang maupun pemerhati.

Salah satunya Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Sulawesi Barat, Nurmansyah.

Ia menuturkan, persoalan pengelolaan pasar bukan hanya di sekitar Kota Mamasa saja, namun hampir semua pasar tradisional yang ada di Kabupaten Mamasa mengalami persoalan yang sama.

"Misalnya relokasi pasar Mala'bo, pasar Rantepalado, pasar Orobua, dan sejumlah pasar lainnya," tutur Nurmansyah, Selasa (18/2/2020) siang.

Ia menilai, persoalan itu terjadi karena Pemda seakan terburu-buru untuk membangun pasar tanpa kajian yang mendalam.

"Ada dampak sosial, dampak lingkungan, faktor ekonomi dan banyak lagi yang seharusnya dikaji betul Pemda sebelum membangun pasar, baik di lokasi yang lama atau di relokasi ke tempat baru," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Semuel Mesakaraeng
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved