Pak Ogah Makin Banyak, Perintah Gubernur Sulsel Dicueki Dishub?
Menurut dia, kemacaten di Makassar merupakan salah satu persoalan utama yang harus diselesaikan oleh pemerintah.
Penulis: Saldy Irawan | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN-TIMUR.COM,MAKASSAR - Gubernur Sulawesi Selatan, HM Nurdin Abdullah, kembali mengeluhkan banyaknya 'Pak Ogah' beroperasi di Kota Makassar.
Pak Ogah istilah bagi orang, biasanya pemuda, yang menjual jasa menyeberangkan kendaraan saat hendak berputar arah.
Hal itupun menurut dia, sebagai pemicu kemacetan di jalan raya, khususnya di titik putaran atau u-turn.
Menurut dia, kemacaten di Makassar merupakan salah satu persoalan utama yang harus diselesaikan oleh pemerintah.
Saking seriusnya, Nurdin mengaku telah berulangkali meminta kepada jajaran Dinas Perhubungan Sulsel dan Dinas Perhubungan Kota Makassar untuk sigap mengatasi pak oga dengan intens melakukan koordinasi khususnya dengan pihak kepolisian.
Ia pun berharap ada sebuah sistem yang dibangun untuk mengatasi hal tersebut.
"Kalau saya memang harus ada sistem, tetapi ini sudah berkali-kali saya sampaikan baik ke perhubungan provinsi, maupun perhubungan kota," kata mantan Bupati Bantaeng ini, Minggu (9/2/2020).
Dari hasil penelitian Laboratorium Transportasi Universitas Hasanuddin (Unhas) pak ogah dinilai mengatur lalu lintas tidak sesuai dengan ketentuan.
"Jadi Pak ogah ini dari awal menjadi keluhan saya. Dan saya sudah menyampaikan ke teman-teman di Pemprov maupun di Pemkot, supaya pak ogah itu ditertibkan," kata Nurdin.
Lanjutnya, pak ogah lebih mementingkan mendapatkan upah dengan menyebrankan kendaraan dibandingkan mengatur lalu lintas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/pak-ogah-terlihat-di-jalur-u-turn-jl-perintis-kemerdekaan.jpg)