Pencabulan Anak di Mamasa

Soal Sanksi yang Dijatuhi Bagi Pelaku Inses di Mamasa, Begini Penjelasan Tokoh Adat

Sebelumnya seperti yang diberitakan beberapa hari lalu, seorang siswi SMP berusia 17 tahun di Mamasa menjadi korban kekerasan seks ayah

semuel/tribunmamasa.com
Prosesi pemberian sanksi hukum adat pelaku Inses 

TRIBUNMAMASA.COM, TAWALIAN - Perbuatan asusila yang terjadi di Kecamatan Tawalian, beberapa pekan lalu, dianggap mencoreng nama baik Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.

Sebelumnya seperti yang diberitakan beberapa hari lalu, seorang siswi SMP berusia 17 tahun di Mamasa menjadi korban kekerasan seks ayah, kakak dan sepupunya, dari rentan waktu tahun 2016 hingga 2020.

Siswi yang menjadi korban inses itu, telah menjadi budak nafsu ayah dan kakaknya sejak masih kelas 6 SD.

Akibat dari perbuatan ketiga pelaku yakni MK, DM dan DA, tokoh adat menjatuhi hukuman dengan denda satu ekor kerbau, sesuai kemampuan ekonominya.

Kerbau yang menjadi tumbal bagi perbuatan ketiga pelaku, ditombak (Diparrausan) secara beramai-ramai oleh warga, disaksikan orang banyak.

Setelah ditombak, bangkai dari kerbau itu lalu dihanyutkan di sungai, sebagai simbol bahwa perbuatan dan kutukan itu telah dihanyutkan (dilammusan).

Prosesi adat itu dilakukan di tepi sungai di Kelurahan Tawalian, Kecamatan Tawalian, Sabtu (8/2/2020) siang.

Menurut Tokoh Adat, Maurids Genggong, proses adat yang dilakukan yaitu bertujuan menghukum pelaku perbuatan biadab.

Meskipun kata dia, pelaku telah diproses sesuai hukum positif yang berlaku secara universal, namun hukum positif juga dianggap tidak bisa menggagalkan proses hukum adat.

Sehingga pelaku selayaknya dihukum sesuai tradisi masyarakat Mamasa.

Halaman
123
Penulis: Semuel Mesakaraeng
Editor: Ansar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved