Virus Corona

80 Meninggal Akibat Virus Corona, Termasuk 1 Pejabat, Kondisi Mahasiswa Indonesia di 'Kota Mati' Itu

Data terbaru, 80 orang meninggal akibat Virus Corona, termasuk 1 pejabat, kondisi mahasiswa Indonesia di 'Kota Mati' itu.

Sumber dan tingkat penyebaran Virus Corona tipe baru belum diketahui.

Namun, virus ini menyebabkan pneumonia atau radang paru-paru.

Langkah WHO

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan tengah dalam perjalanan menuju Beijing.

Dirinya akan bertemu dengan pejabat pemerintah setempat guna membahas krisis itu.

”Rekan-rekan WHO dan saya ingin memahami perkembangan terkini dan memperkuat kemitraan kami dengan China dalam memberikan perlindungan lebih lanjut terhadap wabah,” kata Tedros, melalui Twitter.

Pekan lalu, Tedros memutuskan kasus Virus Corona tipe baru belum masuk status kedaruratan kesehatan global.

Apabila status kedaruratan kesehatan global telah ditetapkan, akan ada tindakan internasional yang lebih terpadu termasuk kemungkinan pembatasan perdagangan atau perjalanan.

Kasus Virus Corona tipe baru sejauh ini telah ditemukan di sejumlah negara Asia, termasuk Jepang, Taiwan, dan Thailand.

Kasus juga ditemukan di negara-negara benua lainnya, seperti Perancis, Amerika Serikat, dan Kanada. Warga yang terinfeksi sebelumnya berkunjung ke China.

Kondisi Mahasiswa Indonesia

Mahasiswa Indonesia di Wuhan, China, Rio Alfi, menggambarkan kota tersebut seperti kota mati setelah menyebarnya Virus Corona di kota tersebut.

Kereta listrik, menurut Alfi, mulai Senin (27/1/2020) hari ini mulai tak beroperasi.

Sementara itu, bus kota juga sudah tidak beroperasi sejak beberapa hari lalu.

Selain itu, kini stok pangan di Wuhan mulai menipis.

Akibatnya, sejumlah harga bahan pangan melonjak.

Rio mengatakan, melonjaknya harga bahan pangan mengakibatkan mahasiswa Indonesia yang mengandalkan beasiswa kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Saat ini harga sembako di Wuhan sudah mulai naik, dan itu pun stoknya mulai terbatas. Jadi bagi kami mahasiswa yang mengandalkan beasiswa jadi kemungkinan tidak mencukupi ya," ujar Rio dalam video yang ia kirimkan kepada Kompas TV, Minggu (26/1/2020).

Rio mengatakan, saat ini terdapat 93 mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Wuhan. Mereka berharap pemerintah melalui KBRI Beijing bisa mengevakuasi para mahasiswa ke kota yang lebih aman.

Hingga kini, mereka masih menunggu kabar dari KBRI Beijing terkait kemungkinan adanya evakuasi ke kota yang lebih aman.

"Informasi yang saya terima dari pengurus PPI Wuhan, itu sudah koordinasi dari KBRI. Tapi, sejauh ini belum ada informasi apakah kami bisa dievakuasi atau bagaimana, itu belum bisa diputuskan," ujar Rio.

"Kami semua berharap dapat solusi terbaiklah. Bagaimana kami di sini bisa dievakuasi ke kota yang lebih aman lagi," lanjut dia.

Virus Corona Wuhan atau corona virus baru n-CoV 2019 meluas dengan begitu cepat.

Tak lama setelah kasus tersebut terkonfirmasi ditemukan di Wuhan, China, beberapa negara lain melaporkan kejadian serupa. Virus yang masih satu keluarga dengan virus penyebab flu hingga MERS dan SARS ini bisa menyebabkan kematian.

Melalui unggahan @safetravel.kemlu, salah satu akun resmi milik Kementerian Luar Negeri RI, tanggal 25 Januari 2020, imbauan disampaikan untuk meningkatkan kewaspadaan bagi WNI yang berada atau berencana mengunjungi Hong Kong dan negara-negara yang telah terdampak.

Selain itu, diimbau juga untuk mengikuti perkembangan virus ini, menghindari tempat dan kota asal virus, tidak melakukan kontak fisik dengan orang yang sedang dalam kondisi batuk, demam, atau sesak napas.(afp/reuters/taiwan news/kompas.com)

Editor: Edi Sumardi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved