Unismuh

Prodi Sosiologi Unismuh Gelar Kuliah Tamu, Bahas Guru Merdeka dalam Belajar

Tampil sebagai pembicara Ketua KGB Nusantara Usman Jabbar Mappisona, dan Ketua KGB Daerah Makassar Anita Taurisia Putri.

Prodi Sosiologi Unismuh Gelar Kuliah Tamu, Bahas Guru Merdeka dalam Belajar
Ist
Prodi Sosiologi Unismuh Gelar Kuliah Tamu 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Prodi Pendidikan Sosiologi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggandeng Komunitas Guru Belajar (KGB) Nusantara, untuk memberikan inspirasi kepada ratusan mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Muhammadiyah Makassar, di Mini Hall FKIP Unismuh Makassar, Rabu (15/1/ 2020).

Tampil sebagai pembicara Ketua KGB Nusantara Usman Jabbar Mappisona, dan Ketua KGB Daerah Makassar Anita Taurisia Putri.

Ketua Prodi Sosiologi Drs Nurdin MPd menegaskan, kegiatan kuliah tamu merupakan kegiatan rutin yang dilakukan prodi yang dipimpinnya.

"Kita ingin agar para dosen dan mahasiswa di Prodi Sosiologi Unismuh senantiasa memperoleh semangat baru dalam mengajar dan belajar. Itulah spirit akreditasi A yang kami raih akhir tahun lalu. Kami ingin senantiasa mengembangan tradisi keunggulan," katanya.

Ketua Panitia Riswandy Marsuki mengungkapkan, bahwa acara ini merupakan upaya menyiapkan calon-calon guru Sosiologi yang merdeka dalam belajar.

"Komunitas Guru Belajar Nusantara adalah komunitas guru yang memiliki cara pandang dan lompatan berpikir yang sejalan dengan Mendikbud Nadiem Makariem.

Semoga mampu menginspirasi para mahasiswa baik dalam proses perkuliahan, maupun ketika mereka menjadi guru di masa depan," jelas dosen Prodi Sosiologi Unismuh Makassar ini.

Koordinator KGB Nusantara, Usman Djabbar mengatakan, Guru Merdeka Belajar adalah guru yang mampu mengubah cara pandang anak-anak dari HOW menjadi WHY dalam belajar.

Usman menjelaskan, bahwa KGB hadir agar para guru mampu mengajar secara merdeka, memiliki kompetensi, mampu berkolaborasi, dan mengembangkan karir guru.

Salah satu contoh yang ditunjukkan Usman tentang terbatasnya kemerdekaan guru dalam belajar, adalah ketiadaan kemerdekaan guru memilih pelatihan sendiri.

"Sebagai guru, kami merasa saat ini belum pernah ditanya-ditanya jenis pelatihan apa saja yang paling kami butuhkan. Setiap undangan yang datang ke sekolah hanya untuk menghadiri," kata mantan Aktivis Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) ini.(*)

Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur

Follow Instagram Tribun Timur

Subscribe akun Youtube Tribun Timur

(*)

Penulis: Muh. Hasim Arfah
Editor: Sudirman
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved