RUU Omnibus Law

Tolak RUU Omnibus Law, Buruh di Wajo Serahkan Pernyataan Sikap ke Wakil Bupati

Aksi unjuk rasa yang dilakukan pekerja dan buruh di Kabupaten Wajo menolak RUU Omnibus Law

Tolak RUU Omnibus Law, Buruh di Wajo Serahkan Pernyataan Sikap ke Wakil Bupati
TRIBUN TIMUR/HARDIANSYAH ABDI GUNAWAN
DPC FPE KSBSI Wajo berunjuk rasa menolak RUU Omnibus Law di Kabupaten Wajo, Rabu (15/1/2020). 

TRIBUN-WAJO.COM, SENGKANG - Aksi unjuk rasa yang dilakukan pekerja dan buruh di Kabupaten Wajo menolak RUU Omnibus Law tak berhenti di Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Wajo, Rabu (15/1/2020).

Setelah mendengar komitmen Kadis Tenaga Kerja dan Transmigrasi Wajo, Syahran yang bakal membawa langsung aspirasi dan pernyataan sikap penolakan RUU Cipta Lapangan Kerja atau Omnibus Law, aksi dilanjutkan ke Kantor Bupati Wajo.

Sayang, Bupati Wajo Amran Mahmud tak berada di tempat. Massa aksi yang tergabung dalam Dewan Pengurus Cabang Federasi Pertambangan dan Energi Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (DPC FPE KSBSI) Kabupaten Wajo memilih untuk bertemu dengan Wakil Bupati Wajo, Amran.

Amran sempat tak ingin turun menemui massa kasi lantaran merasa tak diberitahu sebelumnya perihal aksi unjuk rasa tersebut.

Namun, setelah Ketua DPC FPE KSBSI Wajo, Abdul Kadir Nongko beserta pengurus DPC FPE KSBSI Wajo lainnya meminta, Amran yang juga Ketua Tripartit Kabupaten Wajo akhirnya menemui massa aksi.

"Bukan saya tidak mau menemuiz saya merasa berkecil hati lantaran tidak dilibatkan, seandainya saya tahu, saya akan ikut long march, saya ini Ketia Tripartit Kabupaten Wajo," kata Amran do hadapan massa aksi.

Lebih lanjut, dirinya sangat mendukung langkah para pekerja dan buruh menolak RUU Omnibus Law yang perancangannya tidak melibatkan serikat pekerja.

"Pemkab Wajo sangat mendukung aksi ini, tentu pernyataan sikap ini akan disampaikan ke atas (kementerian)," katanya.

Sebagaimana diketahui, ada 4 poin tuntutan DPC FPE KSBSI Wajo, yakni keluarkan klaster ketenagakerjaan dari RUU Cipta Lapangan Kerja, tolak kenaikan iuaran BPJS Kesehatan, tolak upah per jam, dan segera bentuk tim khusus klaster ketenagakerjaan.

Aksi penolakan RUU Omnibus Law sendiri pun dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia oleh para pekerja dan buruh.

Halaman
12
Penulis: Hardiansyah Abdi Gunawan
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved