Sopir Ambulans

Pengakuan Sopir Ambulans, Merasa Ada Ikuti Padahal Lagi Kosong

Menjadi sopir ambulans tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis maupun kecakapan saat mengendarai mobil.

akbar/tribunbarru.com
Ambulans mengalami kecelakaan tunggal di Dusun Lampoko, Takkalasi, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru, Minggu (8/12/2019) sore. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Siapa bilang menjadi sopir ambulans biasa-biasa saja.

Menjadi sopir ambulans tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis maupun kecakapan saat mengendarai mobil.

Tapi juga harus siap mengambil risiko, mulai dari dikejar-kejar waktu saat membawa orang yang sedang sekarat, sengketa keluarga, hingga ada yang merasa diikuti oleh roh orang yang sudah meninggal.

Siapa pun pemilik ambulans, pasti membutuhkan sopir, yang siap mengantar penumpang ke rumah sakit ataupun ke liang lahat.

Di Bandar Lampung ada ratusan orang yang berprofesi sebagai sopir ambulans.

Perjalanan sang sopir mengantar ke tujuan tersebut punya banyak suka duka dan bahkan ada cerita misteri yang melingkupinya.

Seperti yang diakui salah seorang sopir ambulans, Ahmadi Afandi (39).

Ahmadi Afandi mengaku, sudah 4 tahun lamanya menjadi sopir mobil ambulans jenazah.

Ahmadi Afandi, menjadi sopir ambulans sudah sejak awal Tahun 2016 lalu.

Ahmadi Afandi bekerja menjadi sopir ambulans di Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung yang memiliki program ambulans gratis.

Halaman
1234
Editor: Ansar
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved