Polda Sulsel

Tetapkan 2.386 Tersangka, Polisi Gagalkan Peredaran 36 Kilogram Sabu di Sulsel

Data itu dipaparkan dalam jumpa pers akhir tahun yang digelar Polda Sulsel di Mapolrestabes Makassar, Senin (30/12/2019) siang.

Tetapkan 2.386 Tersangka, Polisi Gagalkan Peredaran 36 Kilogram Sabu di Sulsel
Humas Polres Maros
Polda Sulsel menggelar jumpa pers akhir tahun di aula Mapolrestabes Makassar, Jl Ahmad Yani, Senin (30/12/2019) siang. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sepanjang 2019, sebanyak 2.386 orang berstatus tersangka kasus penyelahgunaan narkotika oleh Direktorat Narkoba Polda Sulsel.

Data itu dipaparkan dalam jumpa pers akhir tahun yang digelar Polda Sulsel di Mapolrestabes Makassar, Senin (30/12/2019) siang.

2.386 tersangka itu merupakan hasil pengungkapan terhadap 1.760 kasus narkoba.

Barang bukti yang diamankan, sebanyak 1.295,11 gram atau 1,2 kilogram narkotika jenis ganja, 36 kilogram sabu, obat daftar G 39.133 butir dan ekstasi 1.737 butir.

"Kejahatan narkoba yang dapat diungkap pada Tahun 2019, mengalami kenaikan berjumlah 1.760 perkara. Sedangkan pada Tahun 2018 hanya berjumlah 1.720 perkara, jadi mengalami kenaikan 40 kasus atau 2,33 persen," kata Kapolda Sulsel Irjen Pol Mas Guntur Laupe, memimpin jumpa pers.

Terpisah, Dir Narkoba Polda Sulsel Kombes Pol Hermawan mengungkapkan, kasus kejahatan narkotika terbanyak terjadi di Kota Makassar.

Hal itu kata Kombes Pol Hermawan ditunjukkan dengan banyaknya lapiran kasus narkoba yang di tangani jajaran Res Narkoba Polrestabes Makassar.

"Banyak masyarakat yang menilai bahwa narkoba yang paling banyak adalah di Sidrap, di Pare-pare, di Pinrang. Makanya dengan fakta laporan polisi yang banyak tertangkap di Polrestabes (Makassar), faktanya adalah yang paling terbanyak itu adalah di sini (Kota Makassar)," ujarnya.

Bahkan, lanjut Hermawan dari 150an bandar yang ditangkap pada pengungkaoan 2018-2019, kebanyakan ditangkap di Kota Makassar.

Hal itu pulalah yang menjadi alasan pengungkapan kasus narkoba lebih banyak ditangani Polrestabes Makassar dibanding dengan Direktorat Narkoba Polda Sulsel.

"Itu alasan kenapa Polrestabes (Makassar) lebih besar, karena kita hanya membackup. Kita pembina fungsi tehnis di Polda untuk membackup polres-polres yang minim pengungkapan," jelasnya. (*)

Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur

Follow akun instagram Tribun Timur:

Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:

(*)

Penulis: Muslimin Emba
Editor: Ansar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved