Natal 2019
Jelang Natal 2019, Ketua PMII Bulukumba Ajak Warga Jaga Kerukunan Antar Umat Beragama
Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam (PMII) Bulukumba, Ramil Syam, mengajak warga Bulukumba untuk menjaga kerukunan antar umat beragama.
Penulis: Firki Arisandi | Editor: Suryana Anas
TRIBUNBULUKUMBA.COM, UJUNG BULU - Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam (PMII) Bulukumba, Ramil Syam, mengajak warga Bulukumba untuk menjaga kerukunan antar umat beragama.
Intoleransi, kata pemuda kelahiran Benteng Gantarang ini, bukanlah sifat dan watak bangsa Indonesia.
Karena Indonesia lahir dari perbedaan, yang disatukan dengan ikatan Bhineka Tunggal Ika.
Perbedaan bangsa Indonesia adalah sebuah kekuatan.
Terlebih pemuda, yang merupakan pelanjut tongkat estafet kepemimpinan bangsa Indonesia kedepan.
Olehnya, pemuda harus mengambil peran sejak dini, minimal menjaga kesatuan bangsa dengan mengampanyekan toleransi.
"Saya meminta kepada teman-teman OKP dan pemuda Bulukumba untuk menciptakan rasa aman jelang Natal 2019 dan Tahun Baru 2020," kata Ramil kepada Tribun, Selasa (24/12/2019).
Ia berharap, bukan hanya pemuda, tapi seluruh elemen masyarakat untuk saling menjaga rasa aman dan ketentraman.
Merawat kerukunan antar umat beragama menjadi salah satu contoh dalam menjaga persatuan bangsa Indonesia, dan Bulukumba secara khusus.
"Mari jaga Bulukumba dari segala upaya intoleransi, sehingga kita mampu bersama-sama menciptakan Bulukumba sebagai tempat aman dan damai untuk semua pemeluk agama," tambah Ramil.
Ramil juga menanggapi adanya penolakan oleh sekelompok warga, terhadap peringatan Natal yang akan dilakukan oleh jemaat Katolik di Jl Wahidin Sudirohusodo, Bulukumba.
Akibat penolakan itu, jemaat Katolik Bulukumba batal menggelar peringatan Natal bersama, Rabu (25/12/2019) besok.
Saran dan masukan Pemda Bulukumba untuk memindahkan lokasi perayaan Natal di Ruangan Pola kantor bupati atau Gedung PKK, juga tidak bisa dilaksanakan karena waktu yang sudah mepet.
Ramil menyayangkan hal tersebut, seharusnya warga bisa menerima perbedaan. Apalagi agama Kristen bukanlah agama yang ilegal.
Kristen tercatat sebagai agama resmi di Indonesia, sama halnya dengan Islam, Hindu maupun Budha.
"Kita harus saling menjaga. Untuk Protestan besok tetap laksanakan di Gereja Toraja di Jl S Majidi. Mari kita saling menjaga, perbedaan bukanlah penghalang, tapi itu menguatkan," pungkasnya. (TribunBulukumba.com)
Laporan Wartawan Tribun Timur, Firki Arisandi, IG: @arisandifirki
Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur
Follow akun instagram Tribun Timur:
Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur: