Ahos Bos Pertamina

Politisi Sulsel Pertanyakan Keseriusan Jokowi Benahi Pertamina,Tantang Ahok Basmi Mafia Migas

Menurut Mukhtar Tompo menegakkan kedaulatan negara dalam pengelolaan migas nasional ide besar Presiden Jokowi. Dibutuhkan orang di level teknis

Editor: AS Kambie
handover
Anggota Komisi VII DPR RI Mukhtar Tompo (kiri) bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menikmati tuak manis usaimeresmikan Sumur Bor Air Tanah dan Pembangkit Listrik Energi Terbarukan di Desa Batujala, Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto, Sulsel, Rabu (9/5/2018). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Anggota Komisi VII DPR RI Periode 2014-2019 Mukhtar Tompo mempertanyakan keseriusan Presiden Joko Widodo membenahi Pertamina.

Komisi VII DPR RI adalah anggota legislator yang lingkup tugasnya di bidang energi, riset dan teknologi, serta lingkungan hidup.

Polisi asal Jeneponto, Sulsel, itu mengatakan, jika memang Presiden Jokowi serius benahi Pertamina, maka tak perlu banyak pertimbangan lagi untuk mengangkap Ignasius Jonan menjadi Direktur Utama PT Pertamina.

Mukhtar Tompo menegaskan, mengangkat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi Komisaris Utama (Komut) menggantikan Tanri Abeng bukan jaminan keseriusan Presiden Jokowi membenahi Pertamina.

“Pak Jokowi anggap Ahok bisa selesaikan tata kelola migas nasional, karena Ahok dianggap bisa melawan mafia migas. Kalau pun ini benar, maka menurut saya kewenangan Ahok sebagai komisaris utama sangat terbatas dengan berbagai regulasi. Butuh figur kuat yang berpengalaman maksimal dan sudah jelas punya prestasi yang mengawalnya secara tekhnis,” jelas Mukhtar Tompo, Rabu (18/12/2019) dini hari.

Menurut Mukhtar Tompo, mafia migas sudah tidak ada, dia tak mewujud dalam lembaga formil yang berdiri sendiri, apalagi setelah petral dibubarkan.

“Tetapi mereka yang dimaksud mafia migas itu sudah bermetamor ke dalam system di internal pertamina. Ahok tak akan bisa menemukan mafia migas. Jika pemerintah serius memperbaiki Pertamina untuk kedaulatan bangsa, maka harus mengutus orang yang kompeten duduk di jabatan Dirut Pertamina. Pak Ignasius Jonan adalah orang yang tepat di sana,” jelas Mukhtar Tompo.

Sebelum di kementerian ESDM, Ignasius Jonan lama di City Bank hingga menjabat sebagai direktur, pernah enam tahun bergelut di BUMN Keuangan, kemudian kembali ke City Bank lagi, lalu urus Kereta Api selama enam tahun, kemudian menjadi Kemenhub dua tiga tahun di ESDM.

“Sekadar catatan, tidak banyak orang yang pernah menjabat di City Bank dan bisa kembali lagi ke tempat itu,” tegas Mukhtar Tompo.

Dia mengingatkan, yang harus dilakukan sesegera mungkin di Pertamina adalah pembangunan kilang. Karena ini domain pembangunan kilang ini bukan lagi di kementerian ESDM, tapi sudah ranah tekhnis di Pertamina.

“Yang kedua, melanjutkan program Presiden Jokowi BBM satu harga. Disparitas harga di berbagai daerah kecil masih banyak. Program ini adalah program andalan Presiden Jokowi yang menyentuh langsung ke akar rumput. Ini adalah agenda besar yang sudah dijalankan dengan baik oleh Pak Ognasius Jonan,” jelas Mukhtar Tompo.

Mukhtar Tompo menilai, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM itu memimpiki kapasitas dan karakter yang cocok memimpin PT Pertamina.

“Makanya, saya sangat sepakat Jika Presiden Joko Widodo sebagai Ketua Tim Penilai Akhir (TPA) menempatkan Pak Ignasius Jonan di Dirut Pertamina. Bukan dilihat, wah, masa turun kelas dari menteri ESDM, tapi harus dilihat secara objektif untuk memperbaiki tata kelola migas nasional," kata Mukhtar Tompo.

Menurut dia, ide besar Presiden Jokowi adalah untuk menegakkan kedaulatan negara dalam pengelolaan migas nasional. Untuk itu, dibutuhkan orang yang di level teknis.

Saat bertugas di Komisi VII sejak 2014-2019, dia mengakui, sudah hampir tiga tahun beradaptasi dengan Ignasius Jonan yang menjabat sebagai Menteri ESDM.

"Secara makro, Pak Ignasius Jonan sudah membukakan keran itu. Pak Jonan sudah melakukan banyak langkah dalam penyelamatan pengelolaan migas nasional, energi kita," kata Mukhtar Tompo.

Politisi yang sempat viral gegara berhadapan dengan terlibat cekcok dengan Presiden Direktur PT Freeport, Cappy Hakim, Februari 2017 itu, menilai sudah waktunya bagi Ignasius Jonan untuk menindaklanjuti dengan cara mikro di PT Pertamina.

“Sekali lagi, jika Presiden Jokowi serius membenahi tata kelola migas nasional, Ignasius Jonan adalah orang yang cocok mengisi posisi direksi. Pak Ignasius Jonan ini, bagi saya adalah orang yang sudah selesai dengan urusan dirinya. Sehingga, orang seperti ini memang harus mengisi ke tempat strategis sangat teknis," jelas Mukhtar Tompo.(*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved