Ini Memoriam Sulastomo

Terungkap Setelah Mantan Ketua Umum PBHMI Meninggal Dunia, HMI vs PKI & HMI vs PKI, Juga Dana Abadi

Senior KAHMI Sulsel menyebar tulisan in memoriam Sulastomo di Group WhatsApp.

Terungkap Setelah Mantan Ketua Umum PBHMI Meninggal Dunia, HMI vs PKI & HMI vs PKI, Juga Dana Abadi
TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR
Alumni HMI yang tergabung dalam panitia pelaksana Perekat Silaturahmi (Kahmi) berfoto bersama usai menggelar rapat di Sekretariat Cabang HMI Makassar jl Bontolempangan, Makassar, Rabu (27/8/2014). 

“Kalau Presiden membubarkan HMI, hari ini juga saya mundur dari kabinet.”  Konon, Bung Karno terkejut melihat keberanian Saifuddin Zuhri membela HMI

AncamanKH Saifuddin Zuhri membuat Bung Karno berpikir dua kali mengabulkan tuntutan PKI untuk membubarkan HMI.

Sebab jika Saifuddin Zuhri mundur dari Kabinet, itu artinya sama dengan  NU tidak lagi mendukung Bung Karno.

Secara politik ini membahayakan. Akhirnya Bung Karno memetuskan: menolak permintaan PKI untuk membubarkan HMI.

Tom menang! Dan itulah jasa terbesar Tom muda  dalam memperjuangkan Islam di Indonesia. Nurchlolish Madjid yang menggantikan Tom di HMI setelah kepemimpinannya, memuji peran Sulastomo yang gagah dan cerdik itu. Tanpa keberanian dan diplomasi yang handal dari Sulastomo, kata Nurchlolish Madjid – mungkin HMI hanya tinggal kenangan!

Tom adalah tokoh mahasiswa yang terlibat langsung dalam hiruk pikuk politik menjelang peristiwa G30S PKI. Ia tak hanya berhasil menyelamatkan HMI, tapi juga menjadi saksi perjuangan rejim Orde Baru dalam menyelamatkan Indonesia dari cengkeraman PKI. Tom, di samping membangun relasi dengan ulama, juga dengan militer yang anti-PKI, terutama dengan  Jenderal Soeharto.

Pak Tom di hari tuanya, seperti diceritakan Amidhan, sahabat dekatnya – merasa heran, kenapa generasi muda Indonesia antipati terhadap Pak Harto yang menyelamatkan Indonesia dari kremusan PKI. Fitnah-fitnah terhadap Pak Harto yang menyatakan Jenderal Bintang Lima itu terlibat dalam kup deta – sangat merisaukan Pak Tom.  Kenapa ada orang lebih mempercayai Cornell Paper yang menyatakan Peristiwa Gestapu adalah akibat konflik internal Angkatan Darat ketimbang pengkhianatan PKI? Aneh bin ajaib! -- ujar Pak Tom yang tahu banyak peristiwa G30S PKI. Beliau heran terhadap sikap para pengamat yang tak terlibat langsung pada tragedi itu  menyalahkan Pak Harto.

Tahun 1955,  pada Pemilu demokratis pertama, PKI (Partai Komunis   Indonesia) berada di empat besar partai pemenang Pemilu. Setelah itu, perkembangan PKI sangat cepat. Kedekatannya dengan penguasa dan janji-janjinya yang memukau rakyat kecil – terutama pembagian tanah secara merata – menjadikan PKI seperti penyelamat untuk kehidupan petani miskin. Di pihak lain, kaum buruh menatap masa depannya penuh harap. Karena PKI menjanjikan, jika ia menguasai negara, buruh bukan lagi pekerja di pabrik; tapi pemilik pabrik itu sendiri. Buncahan harapan itulah yang menjadikan wong cilik tertarik  PKI.

Perjalanan PKI dengan ideologi marxisme- materialisme  yang  atheistis ini,  ternyata  berhasil memukau   rakyat kecil. Bahkan Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno menempatkan komunisme dalam narasi besar Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme). Nasakom adalah tiga pilar yang -- menurut Bung Karno -- harus menjadi landasan pembangunan bangsa Indonesia. Ketiga pilar itu harus berjalan seirama.

Bagaimana fakta lapangannya? Komunisme sebagai ideologi PKI, tak hanya bertentangan dengan prinsip kaum agamawan yang ber-Tuhan, tapi juga bertentangan   dengan   prinsip   kaum   nasionalis yang menempatkan Pancasila sebagai   ideologi negara. Dengan demikian, integrasi Nasakom sulit terjadi. Yang mengejutkan kemudian, Nasakom jadi “instrument” PKI untuk memojokkan musuh-musuh politiknya. Dengan mudah, PKI mengecap musuh- musuh politiknya sebagai kaum Anti-Nasakom. Jika sudah demikian, negara pun akan memojokkannya.

Halaman
1234
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved