Nadiem Makarim

3 Alasan Nadiem Makarim Hapus UN Dibantah JK Menteri Jokowi Sebut Stres JK: Ciptakan Generasi Lembek

3 Alasan Nadiem Makarim Hapus UN Dibantah JK Menteri Jokowi Sebut Stres JK: Ciptakan Generasi Lembek

1. Nadiem Sebut UN Sumber Stres

Ujian Nasional Dihapus, Nadiem Makarim sebut faktor sumber stres siswa, guru hingga orang tua : materi padat ujungnya hanya menghafal.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim memberikan penjelasna mengenai alasan menghapus ujian nasional ( UN) pada 2021 dalam rapat bersama Komisi X DPR.

Nadiem memaparkan tiga alasan mengapa UN perlu diganti dengan sistem ujian lain.

Yang pertama, UN dianggap hanya sekadar membuat siswa menghafal, ditambah dengan materi pada mata pelajaran padat.

"Karena cuma ada beberapa jam untuk melakukan itu, sehingga semua materi harus di-cover.

Ujung-ujungnya ya harus menghafal.

Makanya timbul berbagai kebutuhan untuk bimbel dan lain-lain untuk mencapai angka tinggi," kata Nadiem di DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (12/12/2019), dikutip dari Kompas.com.

Mendikbud Nadiem Makarim menjelaskan program Merdeka Belajar di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (11/12/2019).
Mendikbud Nadiem Makarim menjelaskan program Merdeka Belajar di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (11/12/2019). (KOMPAS.com/Dian Erika)

Kedua, UN menjadi sumber stres bagi siswa, guru, dan orang tua.

Pasalnya, nilai UN menjadi penentu nilai akhir siswa di masa sekolah.

"Di UU sudah dijelaskan bahwa UN adalah untuk mengasesmen sistem pendidikan.

Tapi karena dilakukan di akhir jenjang dan karena menguji berbagai pelajaran, ini ujung-ujungnya jadi angka rapor siswa," ujar Nadiem.

Alasan terakhit, UN tidak mampu mengukur kemampuan kognitif siswa.

Selain itu, UN tak menyentuh nilai karakter siswa.

"Untuk menilai aspek kognitif pun belum mantap.

Karena bukan kognitif yang dites.

Tapi aspek memori.

Memori dan kognitif adalah dua hal yang berbeda.

Bahkan tidak menyentuh karakter, values dari anak tersebut yang saya bilang bahkan sama penting atau lebih penting dari kemampuan kognitif," jelasnya.

UN direncanakan diganti dengan penilaian kompetensi minimum dan survei karakter.

Penilaian kompetensi minimum diukur melalui asesmen literasi dan numerasi.

Selanjutnya, survei karakter berisikan tentang penerapan nilai-nilai Pancasila.

Halaman
Editor: Munawwarah Ahmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved