Tribun Sulbar

LIAR Sulbar Gugah Kesadaran Kritis Mahasiswa Lewat Pendidikan Partisipatif

LIAR Sulbar Gugah Kesadaran Kritis Mahasiswa Lewat Pendidikan Partisipatif melalui pendidikan kritis di Kantor LIAR, Banua Baru, Polman

LIAR Sulbar Gugah Kesadaran Kritis Mahasiswa Lewat Pendidikan Partisipatif
Direktur LIAR Harun Yamerang
Sekolah pendidikan kritis LIAR Sulbar di Sekretariatnya Banua Baru Kecamatan Wonomulyo, Polman.(Direktur LIAR Harun Yamerang) 

TRIBUN-TIMUR.COM, POLMAN - Keberasaan mahasiswa sebagai agen perubahan dan kontrol sosial diharapkan tertuju pada aksi nyata untuk menjawab realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikan Direktur Lembaga Inspirasi dan Advokasi Rakyat (LIAR) Harun Yamerang saat membuka kegiatan pendidikan kritis di Kantor LIAR, Banua Baru, Wonomulyo, Polman, Senin, (9/12/2019).

"Asupan pengetahuan harus terus ditingkatkan agar mandat sosial yang di emban dapat terealisasi dalam bentuk gerakan," kata Harun kepada Tribun-Timur.com, Senin (9/12/2019).

Kegiatan yang bertema, bertukar gagasan, berbagi pengalaman itu di ikuti oleh sejumlah mahasiswa dari berbagai kampus di Sulbar dan rencananya akan berlangsung dari tanggal 7 sampai 9 Desember 2019.

Kata Harun kegiatan itu adalah upaya lain untuk menumbuhkan rasa kepedulian terhadap realitas yang menindas.

"Agar gerakan kepedulian tersebut tak terasuki oleh kepentingan sebagian orang yang berorientasi pada hal yang negatif," ungkapnya.

Pendiri LIAR Aswan Achsa menegaskan, kegiatan tersebut berorientasi pada lahirnya kesadaran kritis seseorang terhadap realitas yang menindas di tengah-tengah masyarakat dan itu harus terpupuk dan mengakar.

"Liar mengadakan pendidikan kritis, untuk membangun kapasitas, kreativitas serta kesadaran kritis dengan garis pemihakan yang jelas kepada masyarakat yang lemah,"ujar.

Aswan menjelaskan, pada proses pendidikan itu, berlandaskan pada model pendidikan orang dewasa (POD), dimana setiap orang dewasa dianggap memiliki pengetahuan dan pengalaman.

"Kegiatan tersebut dilakukan dengan metode partisipatif, saling adu argumen dan gagasan antara peserta dan narasum," ungkapnya.

Lebih lanjut Aswan menjelaskan, para peserta bercerita tentang masalah yang ada di desa masing-masing, baik itu dari segi, budaya, ekonomi, maupun politik. Serta dampak yang ditimbulkan hingga melahirkan ide dan gagasan untuk memecahkan masalah.

"Semua orang yang ada disini adalah orang yang belajar, jadi inilah yang dimaksud dengan pendidikan partisipatif, dengan menjadikan objek adalah masalah dan subjek adalah peserta, bagaimana mengantar peserta melahirkan ide dan gagasan karena setiap orang memilik itu," pungkasnya.(tribun-timur.com)

Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, @nurhadi5420

Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur

Follow akun instagram Tribun Timur:

Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:

Penulis: Nurhadi
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved