Pupuk Kaltim

PT Pupuk Kaltim Harap Petani Sulsel Biasakan Pakai Pupuk Non Subsidi

Hal ini tak terlepas dari alokasi pupuk subsidi secara nasional yang dikurangi untuk tahun 2020 menjadi sekitar 7,9 juta ton, dari tahun 2019 sebesar

PT Pupuk Kaltim Harap Petani Sulsel Biasakan Pakai Pupuk Non Subsidi
fahrizal/tribun-timur.com
PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) wilayah Sulawesi Selatan merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-42 Pupuk Kaltim, di kantornya, Jl AP Pettarani, Minggu (8/12/2019). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - PT Pupuk Kaltim sebagai produsen pupuk bersubsidi dan non-subsidi meminta petani di Sulawesi Selatan terbiasa untuk menggunakan pupuk non-subsidi mulai tahun 2020.

Hal ini tak terlepas dari alokasi pupuk subsidi secara nasional yang dikurangi untuk tahun 2020 menjadi sekitar 7,9 juta ton, dari tahun 2019 sebesar 8,8 juta ton.

General Manager Pemasaran PSO Pupuk Kaltim, Muh Yusri mengatakan, pengurangan alokasi pupuk subsidi secara nasional pada 2020 juga akan berdampak ke alokasi untuk petani di Sulsel.

"Untuk alokasi 2020 belum ada Permentannya, tapi saya prediksi akan turun di bawah 300 ribu. Kalau 2019 itu alokasinya sekitar 320 ribuan ton, dengan pengurangan di 2020, mungkin nanti sisa sekitar 270 ribuan ton," kata M Yusri di sela acara HUT ke-42 Pupuk Kaltim, di kantor Pupuk Kaltim Wilayah Sulsel, Minggu (8/12/2019).

Yusri mengatakan, hal inilah yang mulai harus dibiasakan petani, terkhusus yang selama ini masih bergantung dengan pupuk non-subsidi.

Ia berharap para petani dapat menggunakan pupuk non-subsidi untuk memenuhi kebutuhan pertanian mereka, meski harganya lebih mahal.

"Mungkin di 2020 alokasi petani akan menurun. Untuk memenuhi, yah kami siapakn dengan pupuk non subsidi. Kami siapkan sesuai dengan berapa yang dibutuhkan petani. Misalkan 2020 turun, artinya ada sekitar 50 ribuan ton non subsidi harus kami siapkan," kata dia.

Dijelaskan Yusri, memang terdapat perbedaan harga cukup signifikan antara pupuk subsidi dan non-subsidi, namun para petani harus terbiasa dengan harga yang lebih mahal itu.

"Memang untuk non-subsidi harganya berbeda cukup signifikan, contohnya Urea subsidi HET-nya Rp 1800-an per kilo, kalau non-subsidi bisa sampai Rp 5000 per kilo. Ini mau tidak mau harus diantisipasi petani kita," jelasnya.

"Kalau petani hanya mengharapkan subsidi sementara nanti jatahnya akan turun, tentunya harus ditambahkan non-subsidi untuk memenuhi kebutuhan," tambahnya.

Menurut Yusri, Pupuk Kaltim sudah melakukan berbagai upaya untuk memeprkenalkan produk non-subsidi ke petani, melalui sosialisasi Demplot untuk berbagai jenis pupuk.

"Kami berkepentingan untuk membekali petani bahwa yang namanya pemupukan harus berimbng, jangan hanya Urea, tapi hrus gunakan pupuk lain seperti NPK, organik dan hayati. Kami sudah demplot hampir di seluruh Susel," katanya.

Ia juga menyebut secara umum petani di Sulsel mulai sadar dan mengerti tentang penggunaan pupuk secara berimbang.

"Alhamdulillah petani sudah mulai mengenal dan paham tentang penggunaan semua jenis pupuk. Mereka juga sudah mulai berhitung, menggunakan pupuk lebih besar menghasilkan lebih besar juga. Kita harus mengedukasi petani secara perlahan, dan di Sulsel tampaknya sudah meningkat menggunakan pupuk secara berimbang," pungkasnya.

Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved