Tribun Mamuju

Pematangan Lahan Kantor Kejati Sulbar Diprotes, Diduga Pokja dan PPTK Main Mata

Kuasa Direktur CV Zahra Utama Konstruksi M Syarif menjelaskan, CV Zahra Utama Konstruksi adalah salah satu perusahaan yang diundang

Pematangan Lahan Kantor Kejati Sulbar Diprotes, Diduga Pokja dan PPTK Main Mata
nurhadi/tribunmamuju.com
Lokasi pembangunan kantor Kejati Sulbar di Jl Marthadinata, Kelurahan Simboro, Kacamatan Simboro, Mamuju. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAMUJU - Proses tender proyek pematangan lahan pembangunan Kantor Kejaksaan Tinggi Sulbar tuai polemik. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sulbar diduga memainkan sistem tender.

Kuasa Direktur CV Zahra Utama Konstruksi M Syarif menjelaskan, CV Zahra Utama Konstruksi adalah salah satu perusahaan yang diundang atau terkualifikasi di sistem Informasi Kinerja Penyedia (Sikap) pada lelang pertama, dengan sistem tender cepat.

M Syarif mengatakan pihaknya sudah memasukkan penawaran Rp 1,3 miliar melalui lelang cepat yang dibuka pada 13-15 November. Namun tiba-tiba dibatalkan.

"PPTK mengubah sistem tender menjadi tender biasa. Awalnya Tender cepat cuma empat peserta. Pas lelang akan berakhir tiba-tiba dibatalkan. Mungkin karena yang diarahkan tidak diundang oleh sistem Sikap," beber M Syarif.

Ia keberatan dengan sikap PPTK yang membatalkan proses tender pertama dan mengubah sistem tender dari cepat menjadi tender biasa.

Setahunya, sistem tender itu diubah apabila tidak ada yang memenuhi kualifikasi.

Karenanya ia menduga ada main mata antara Pokja dengan PPTK. Dugaannya perusahaan yang disediakan untuk proyek ini tidak diundang oleh Sikap sehingga diputuskan untuk diulang.

"Saya konfirmasi sama pokja tetapi tidak bisa dijawab. Seharusnya tidak diulang karena yang ikut lelang cepat sudah terkualifikasi otomatis oleh sistem. Ada indikasi sudah disiapkan pemenangnya,"katanya.

Ia menolak sistem tender biasa itu bukan karena tidak ingin bersaing, melainkan ia tidak terima dengan sikap PPTK yang dianggap punya siasat buruk.

"Saya sudah menemui PPTK di Dinas PUPR Sulbar, mempertanyakan perubahan sistem lelang itu. Ada apa, kenapa tidak dilakukan lelang biasa sejak awal. Kalau alasannya karena mau cepat, kenapa lelang kedua dilakukan lelang biasa, bukannya lelang biasa itu justru lebih memakan waktu. Makanya saya curiga ada permainan," ungkapnya.

Halaman
123
Penulis: Nurhadi
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved