UMI Makassar

Akreditasi Berakhir Awal 2020, RS Ibnu Sina UMI Undang Tim KARS Survei Kelayakan

Demi tetap berstatus terakreditasi sebelum jatuh tempo, pihak RS Ibnu Sina YW UMI pun menggenjot segala bentuk persiapan.

Akreditasi Berakhir Awal 2020, RS Ibnu Sina UMI Undang Tim KARS Survei Kelayakan
UMI Makassar
Akreditasi Berakhir Awal 2020, RS Ibnu Sina UMI Undang Tim KARS Survei Kelayakan 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR- Akreditasi Rumah Sakit Ibnu Sina Yayasan Wakaf Universitas Muslim Indonesia (RS Ibnu Sina YW UMI) memasuki masa jatuh tempo atau berakhir, Januari 2020 mendatang.

Demi tetap berstatus terakreditasi sebelum jatuh tempo, pihak RS Ibnu Sina YW UMI pun menggenjot segala bentuk persiapan.

Termasuk mengundang tim verifikasi dari Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS), Senin (2/12/2019).

KARS diundang melakukan Survei versi Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) edisi I.

Tim KARS mendatangkan surveyor terdiri dari empat orang.

Yakni dr Artono Isharanto, dr I Putu Satya Wijaya, dr Wiwik M Abubakar, Ns. Ni Putu Sri Wahyuni.

Salah satu tim surveior, dr. Artono Isharanto, menyampaikan akreditasi ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan mutu pelayanan rumah sakit dan melindungi keselamatan pasien.

"Tentu agar meningkatkan perlindungan bagi masyarakat dan sumberdaya manusia yang bekerja dirumah sakit," ujarnya.

Menurutnya, Rumah sakit sebagai institusi, mendukung program pemerintah di bidang pelayanan kesehatan dan meningkatkan profesionalisme rumah sakit diseluruh Indonesia.

"Maka peran penting pemerintah dalam senantiasa bersama rumah sakit untuk meraih akreditasi yang sempurna," paparnya

Dikonfirmasi terkait indikator utama kelayakan versi tim survei, berdasarkan standar akreditasi nasional, dr Artono menuturkan bahwa ada banyak hal.

Namun, gambara umum bukan hanya satu alat saja, akan tetapi berbagai aspek sangat penting supaya RS bermutu harus lebih baik agar semua layanan efektif dan efesien.

"Kami dalam proses, ada beberapa indikator penilaian. Pertama, penuhi area manajerial. Kedua, area keperawatan dan ketiga, area medias. Total ada 16 indikator. Tapi utama ada tiga tadi," pungkasnya.

Pada kesempatan itu tim survei mempertanyakan setiap cakupan dan standar.

Bahkan ditanya terkait standar dan target pelayanan di RS Ibnu Sina.

"Kami sudah melihat indikator prioritas RS Ibnu Sina. Penyelesaian komplain dan kepuasaan rendah. Apa yang dilakukan RS untuk solusi hal tersebut," tuturnya.

Sementara itu Direktur RS Ibnu Sina, Dr Sultan Buraena, dalam paparannya menggambarkan profil RS berkomitmen menjalani visitasi dalam rangka penetapan RS Pendidikan yang baik, berkualitas dan bermutu.

"Visi RS Ibnu Sina, menjadi Rumah Sakit dengan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang islami, unggul, dan terkemuka di Indonesia," paparnya.

Lanjut dia, pada misi RS Ibnu Sina pertama, melaksanakan dan mengembangkan pelayanan kesehatan yang unggul serta menjunjung tinggi moral dan etika atau misi pelayanan kemanusiaan.

Kedua, melaksanakan dan mengembangkan pendidikan kedokteran dan profesional kesehatan lainya pada masyarakat sesuai misi pendidikan.

Terakhir melangsungkan pelayanan dakwah dan bimbingan spiritual kepada pasien, keluarga pasien dan karyawan rumah sakit sesuai misi dakwah.

"Sejauh ini jumlah SDM RS Ibnu Sina sebanyak 568 orang terdiri atas dokter umum 21 orang, dokter spesialis 93 orang, dokter gigi 5 orang.

Tenaga keperawatan 214 orang, Perawat 22 orang, Bidan 22 orang, tenaga penunjang 65 orang dan tenaga non klinos 170 orang," papar Dr Sultan.(tribun-timur.com)

Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, @piyann__

Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur

Follow akun instagram Tribun Timur:

Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:

Penulis: Alfian
Editor: Ansar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved