Bank Indonesia

BI Sebut Uang Koin Kian Tak Diminati Masyarakat, Ini Penyebabnya

BI Sebut Uang Koin Kian Tak Diminati Masyarakat, Ini Penyebabnya. Tren penggunan Uang koin oleh masyarakat, khususnya di Sulawesi Selatan terus menuru

BI Sebut Uang Koin Kian Tak Diminati Masyarakat, Ini Penyebabnya
Muh Abdiwan/Tribun Timur
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sulawesi Selatan menggelar media briefing, Rabu (20/11/2019). BI Sulsel membuat program Peduli Koin kepada siswa SD dan SMP se-Kota Makassar. (ABDIWAN) 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tren penggunan Uang koin oleh masyarakat, khususnya di Sulawesi Selatan terus menurun dari tahun ke tahun.

Dalam satu dasawarsa terakhir, di seluruh Indonesia BI telah mengeluarkan uang koin sekitar Rp 6 Triliun.

Namun yang kembali ke BI hanya Rp 900 Miliar atau 16 persen dengan tren semakin menurun.

Sementara data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sulawesi Selatan mebcatat, sejak lima tahun terakhir, BI telah mengedarkan uang pecahan koin Rp 1.000 ke bawah sebanyak Rp 87,4 miliar, baik melalui penarikan uang ke perbankan mapun melalui layanan pe ukaran dan kas keliling.

Namun dalam periode yang sama, uang yang kembali ke BI melalui perbankan dan masyarakat hanya Rp 893,3 juta atau 1,02 persen.

Kepala Grup Sistem Pembayaran Pengeloaan Uang Rupiah dan Layanan Administrasi Bank Indonesia, Iwan Setiawan mengatakan semakin menurunnya transaksi uang koin disebabkan budaya masyarakat yang masih menganggap uang koin bukan sebagai alat transaksi.

"Kondisi ini menyebabkan sirkulasi peredaran uang rupiah khususnya uang koin di masyarakat tidak optimal, dan jumlah cash flow semakin menurun setiap tahunnya," beber Iwan, Rabu (20/11/2019).

BI Sulsel Ajak SD dan SMP se-Kota Makassar Lomba Kumpulkan Uang Koin, Ini Mekanismenya

Iwan menjelaskan, keunikan masyarakat yang semakin enggan menggunakan uang koin, salah satu alasannya karena uang koin dinilai berat atau dimensi yang memakan tempat.

"Implikasinya adalah uang logam saat ini banyak yang berserakan di sudut-sudut rumah, selain itu adanya asumsi uang logam tidak bernilai dan alasan efisiensi biaya sehingga lebih memilih uang kertas untuk bertransaksi," kata Iwan.

Lanjut Iwan, saking kuatnya asumsi itu, masyarakat bahkan seolah membiarkan begitu saja uang koinnya tanpa mau dikumpulkan untuk ditukar dengan uang kertas.

Halaman
12
Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved