1.455 Sekolah di Sulawesi Selatan Aktif Lakukan Outdoor Classroom Day (OCD)

1.455 Sekolah di Sulawesi Selatan Aktif Lakukan Outdoor Classroom Day (OCD)

1.455 Sekolah di Sulawesi Selatan Aktif Lakukan Outdoor Classroom Day (OCD)
Dok Pemprov Sulsel
1.455 Sekolah di Sulawesi Selatan Aktif Lakukan Outdoor Classroom Day (OCD) 

TRIBUN-TIMUR.COM - Pelaksanaan Outdoor Classroom Day (OCD) dilakukan serentak di seluruh Indonesia, Kamis (7/11/2019).

Di Sulawesi Selatan, pusat titip pantau pelaksanaan OCD dilakukan di Kabupaten Bantaeng.

Adapun total sekolah di Sulsel yang berpartisipasi dalam program OCD ini sebanyak 1.455 sekolah dari 24 kab/kota yang aktif berpartisipasi.

1.455 Sekolah di Sulawesi Selatan Aktif Lakukan Outdoor Classroom Day (OCD)
1.455 Sekolah di Sulawesi Selatan Aktif Lakukan Outdoor Classroom Day (OCD) (Dok Pemprov Sulsel)

Program OCD ini digagas oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia ( KPPPA RI ) dan digelar serentak di Indonesia sejak 2017.

OCD merupakan program Sehari Belajar di Luar Kelas (SBLK). OCD menjadi rangkaian dari peringatan Hari Anak Universal (Universal Children’s Day) yang diperingati setiap 20 November. Karenanya tak hanya digelar di Indonesia, namun serentak di seluruh dunia.

Titik pantau ini dilakukan di sembilan daerah di Indonesia, yakni Bojonegoro dan Kabupaten Tuban di Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Pringsewu (Lampung), Kabupaten Minahasa (Sulawesi Utara), Kota Ternate (Maluku Utara), Kabupaten Timur Tengah Selatan (Nusa Tenggara Timur), Kabupaten Kulon Progo (Daerah Istimewa Yogyakarta) dan Kota Bandung di Provinsi Jawa Barat.

Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Kesehatan dan Kesejahteraan KPPPA RI, Hendra Jamal yang hadir dalam pelaksanaan OCD di kabupaten Bantaeng, mengatakan, ada 10 nilai yang ditanamkan kepada siswa dan siswi dalam mengikuti OCD selama 3 jam berturut-turut.

"Ada pendidikan karakter, kesehatan, iman dan taqwa. Juga ada gemar membaca, adaptasi, gemar membaca, adaptasi perubahan iklim, peduli dan cinta lingkungan, melestarikan budaya, cinta tanah air, sadar bencana serta mau dan berkomitmen mendukung Sekolah Ramah Anak," ungkapnya.

OCD serentak ini diintegrasikan pada Sekolah Ramah Anak (SRA). Namun diharapkan mendorong perluasan SRA di seluruh daerah di seluruh Indonesia.

SLB Negeri 1 Bantaeng menjadi pusat pemantauan OCD oleh KPPPA RI. Bantaeng dipilih sebagai titik pantau karena statusnya sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) kategori Madya.

OCD ini dilakukan untuk memberikan ruang kepada anak-anak untuk lebih berkreasi, disiplin, tidak bosan berada di sekolah.

"Melalui program ini diharapkan, para siswa tetap mengingat permainan tradisional sebagai salah satu bentuk pemenuhan hak anak yang sebaiknya dilaksanakan secara rutin, khususnya dalam pembentukan karakter anak, kerjasama, tolong menolong dan kepedulian anak-anak dalam memecahkan masalah secara bersama-sama," jelasnya. (*)

Editor: Sakinah Sudin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved