BI Kembangkan Klaster Padi di Desa Kale Mandalle Gowa

BI Kembangkan Klaster Padi di Desa Kale Mandalle Gowa. Bank Indonesia telah bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Gowa

BI Kembangkan Klaster Padi di Desa Kale Mandalle Gowa
Dok Bank Indonesia
Bank Indonesia dan Pemkab Gowa panen padi bersama, di Desa Kale Mandalle, Kecamatan Bajeng Barat, Gowa, Jumat (25/10/2019). (Bank Indonesia) 

BI Kembangkan Klaster Padi di Desa Kale Mandalle Gowa

TRIBUN-TIMUR.COM, GOWA - Bank Indonesia telah bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Gowa untuk mengembangkan klaster padi di Kabupaten Gowa.

Kerja sama tanam padi dengan metode Hazton tersebut, diklaim menghasilkan gabah kering panen 10,4 ton per hektar, dari sebelumnya hanya 6 ton per hektar, atau meningkat 73,3 persen.

Acara panen padi bersama pun dilakukan oleh Bank Indonesia dan Pemkab Gowa, di Desa Kale Mandalle, Kecamatan Bajeng Barat, Gowa, Jumat (25/10/2019).

Baca: Nadiem Makarim Rugi Jadi Mendikbud Dibanding CEO GoJek? Bandingkan Gaji Suami Franka Franklin

Baca: Kementan Tegaskan Sertijab Syahrul Yasin Limpo dan Andi Amran Sulaiman Sudah Sesuai Jadwal

Baca: Lowongan Kerja Reporter Daerah Tribun Timur, Cek Syarat & Lokasi Penempatan, Batas Daftar

Direktur Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Sulsel,
Endang Kurnia Saputra mengatakan, dalam menjalankan tugasnya sebagai bank sentral untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah, BI terus melakukan sinergi bersama stakeholder terkait.

Salah satu sinergi yang dilakukan yaitu menjaga inflasi melalui strategi 4K yakni Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

Bank Indonesia dan Pemkab Gowa panen padi bersama, di Desa Kale Mandalle, Kecamatan Bajeng Barat, Gowa, Jumat (25/10/2019). (Bank Indonesia)
Bank Indonesia dan Pemkab Gowa panen padi bersama, di Desa Kale Mandalle, Kecamatan Bajeng Barat, Gowa, Jumat (25/10/2019). (Bank Indonesia) (Dok Bank Indonesia)

Endang menjelaskan, Sulsel merupakan salah satu provinsi penghasil beras terbesar di Indonesia, khususnya di Kawasan Timur Indonesia, perlu menjaga produktivitas dan efisiensi rantai distribusi sehingga harga beras senantiasa terjaga stabil.

"Untuk itu kita mengembangkan klaster padi, didasarkan pada kontribusi beras sebagai salah salah satu komoditas dengan bobot inflasi terbesar, serta memiliki dampak yang besar terhadap kemiskinan," kata Endng.

Ia menjelaskan, dari 74,80 persen sumbangan komoditi makanan terhadap kemiskinan, beras memiliki andil sebesar 25,87 persen untuk wilayah pedesaan dan 19,42 persen untuk wilayah perkotaan.

"Semoga peningkatan produktivitas lahan dapat direplikasi dan meningkatkan stok beras di Sulsel," harapnya.

Halaman
12
Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved