Hingga Agustus Industri Jasa Keuangan di Sulsel Tumbuh Positif Termasuk Industri Perbankan Syariah

Hal tersebut diungkapkan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6 Sulamapua, Zulmi dalam acara media briefing, di Swisbell Hotel Losari, Rabu (1

Hingga Agustus Industri Jasa Keuangan di Sulsel Tumbuh Positif Termasuk Industri Perbankan Syariah
fahrizal syam/tribun-timur.com
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6 Sulamapua, menggelar acara media briefing, di Swisbell Hotel Losari, Rabu (16/10/2019). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Industri jasa keuangan di Provinsi Sulawesi Selatan hingga Agustus 2019 tercatat masih tumbuh positif dengan ditopang intermediasi tinggi, serta tingkat risiko yang tetao aman.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6 Sulamapua, Zulmi dalam acara media briefing, di Swisbell Hotel Losari, Rabu (16/10/2019).

VIDEO: Simak Penjelasan Dandim 1425 Jeneponto Soal Penggunaan Media Sosial

Pemprov Sulbar Setujui Anggaran KPID Sulbar Tahun 2019 Rp 2,3 Miliar

Dilantik Jumat, Berikut Struktur Fraksi, AKD DPRD Makassar

Jadi Trending, Ini Lirik Lengkap Lagu I Love You 3000 II Stephanie Poetri dan Jackson Wang GOT7

Operasi Cipkon di Empat Kecamatan, Polres Barru Amankan Ratusan Liter Ballo

Zulmi menjelaskan, pada posisi Agustus 2019 aset perbankan di Sulsel tumbuh 6,72 persen (yoy), dengan nominal mencapai Rp150,33 triliun.

Jumlah itu terdiri dari aset bank umum sebesar Rp147,40 triliun, dan aset Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebedr Rp2,92 triliun.

"Sementara kinerja intermediasi perbankan Sulsel terjaga pada level yang tinggi dengan LDR (Loan to Deposit Ratio) 125,54 persen, dan tingkat risiko kredit bermasalah atau NPL masih berada di level aman 3,82 persen," ungkap Zulmi.

Lanjut Zulmi, selain konvensional, industri perbankan syariah juga terus mengalami pertumbuhan signifikan tahun ini, baik aset maupun dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh dua digit.

Aset perbankan syariah mencatatkan pertumbuhan cukup tinggi yaitu 9,68 persen (yoy) dengan nominal Rp8,22 persen, sejalan dengan pertumbuhan aset perbankan konvensional sebesar 6,55 persen (yoy) dengan nominal Rp 142,11 triliun.

"DPK perbankan syariah mencatat pertumbuhan double digit di angka 16,98 persen yoy dengan nominal Rp5,47 triliun, lebih tinggi dibanding pertumbuhan DPK bank konvensional di angka 6,30 persen dengan nominal Rp92,56 persen," bebernya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6 Sulamapua, menggelar acara media briefing, di Swisbell Hotel Losari, Rabu (16/10/2019).
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6 Sulamapua, menggelar acara media briefing, di Swisbell Hotel Losari, Rabu (16/10/2019). (fahrizal syam/tribun-timur.com)

Lanjut Zulmi, industri BPR turut mengalami pertumbuhan berkelanjutan, dimana aset, DPK, hingga penyaluran kredit mampu tumbuh di angka dua digit.

"Aset BPR tumbuh tinggi 12,86 persen yoy menjadi Rp2,91 triliun dengan DPK juga tumbuh double digit 15,30 persen yoy menjadi Rp1,87 triliun, serta penyaluran kredit tumbuh 10,23 persen menjadi Rp2,49 persen," pungkasnya. (tribun-timur.com)

Laporan Wartawan tribun-timur.com @Fahrizal_syam

Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur

Follow akun instagram Tribun Timur:

Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:
Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Syamsul Bahri
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved