Benarkan Istri-istri Tentara yang Nyiyir Penusukan Wiranto Sebenarnya Sudah Tahu Konsekuensinya?

Benarkan Istri-istri Tentara yang Nyiyir Penusukan Wiranto Sebenarnya Sudah Tahu Konsekuensinya?

Benarkan Istri-istri Tentara yang Nyiyir Penusukan Wiranto Sebenarnya Sudah Tahu Konsekuensinya?
Instagram
IPDN istri ex Dandim Kendari Kolonel Hendi Suhendi beserta dengan posting-annya di media sosial Facebook. 

Benarkan Istri-istri tentara yang nyiyir Penusukan Wiranto Sebenarnya Sudah Tahu Konsekuensinya? Kenapa Masih Dilakukan?

TRIBUN-TIMUR.COM - Pengamat sekaligus dosen Sosiologi Universitas Sebelas Maret ( UNS) Surakarta Dr Drajat Tri Kartono, M.Si memberi penjelasan tindakan 3 istri TNI yang berkomentar negatif tentang penusukan Wiranto di media sosial.

Akibat komentar negatif tersebut berimbas kepada pencopotan jabatan dan pemenjaraan suaminya selama 14 hari oleh korps TNI.  

Lantas, apa sih yang menyebabkan ibu-ibu itu melakukan tindakan seperti itu?

Drajat mengungkapkan, tindakan itu disebut sebagai satu sinyalmen kuat adanya gap yang terjadi antara tataran atas dan bawah.

Sosok Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan HAM ( Menkopolhukam) Wiranto diasosiasikan sebagai pucuk pimpinan di pusat dan dekat dengan kekuasaan, sementara mereka ada di bawah dan berada langsung di lapangan sebagai pihak yang dikenai berbagai bentuk kebijakan.

“Di tingkat lapangan itu ada gap dengan tingkat pusat, di situ itu yang kemungkinan ada gap antara misi, visi yang ditetapkan Pak Wiranto sebagai pimpinan puncak di Jakarta dengan para pelaksana di lapangan di bawah,” kata Drajat kepada Kompas.com (jaringan SURYA.co.id), Sabtu (12/10/2019).

Istri Peltu YNS yang menulis komentar nyinyir soal penusukan Wiranto usai diperiksa di Polresta Sidoarjo.
Istri Peltu YNS yang menulis komentar nyinyir soal penusukan Wiranto usai diperiksa di Polresta Sidoarjo. (Facebook/dok.surya)

Dan apa yang dilakukan oleh sejumlah istri prajurit tempo hari sebaiknya ditangkap sebagai sinyalemen keberadaan gap ini.

“Itu indikator adanya gap antara stategi policy di atas dan di lapangan. Gap ini perlu untuk dideteksi sejak dini, sebenarnya ibu-ibu ini alat deteksi yang paling cepat,” ujar Drajat.

Sayangnya, dunia militer menerapkan sistem komando di mana ada ikatan yang mengharuskan setiap anggotanya untuk tunduk dan taat pada aturan institusi juga petinggi.

Halaman
1234
Editor: Ilham Arsyam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved