Ranitidin Ditarik dari Peredaran karena Berpotensi Picu Kanker Ternyata Pernah Jadi Obat Terlaris

Ranitidin Ditarik dari Peredaran karena Berpotensi Picu Kanker Ternyata Pernah Jadi Obat Terlaris

Ranitidin Ditarik dari Peredaran karena Berpotensi Picu Kanker Ternyata Pernah Jadi Obat Terlaris
Freeopik
Obat Lambung Ranitidin Ditarik BPOM dari peredaran karena berpotensi picu kanker. 

Setelah adanya peringatan dari US FDA dan EMA, Badan POM melakukan pengambilan dan pengujian beberapa sampel produk ranitidin.

Hasil uji menunjukkan bahwa sebagian sampel mengandung cemaran NDMA dengan jumlah yang melebihi batas yang diperbolehkan.

Pengujian dan kajian risiko akan dilanjutkan terhadap seluruh produk yang mengandung ranitidin.

Berdasarkan hasil pengujian tersebut, Badan POM pun memerintahkan kepada Industri Farmasi pemegang izin edar produk untuk melakukan penghentian produksi dan distribusi.

Ranitidine Cairan Injeksi 25 mg/mL dari PT Indofarma
Ranitidine Cairan Injeksi 25 mg/mL dari PT Indofarma (instagram.com)

Serta melakukan penarikan kembali atas produk-produk yang mengandung ranitidin.

Badan POM mengimbau masyarakat untuk menghubungi dokter atau apoteker jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang terapi pengobatan yang sedang dijalani menggunakan ranitidin.

5 Produk Terdeteksi Mengandung Zat Pemicu Kanker

BPOM atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia telah memerintahkan penarikan lima produk ranitidin yang terdeteksi mengandung N-nitrosodimethylamine (NDMA).

NDMA disinyalir sebagai zat yang bisa menyebabkan kanker atau bersifat karsinogenik.

Kelima produk ranitidin yang terdeteksi mengandung zat penyebab kanker adalah:

1. Ranitidine Cairan Injeksi 25 mg/mL dengan pemegang izin edar PT Phapros Tbk

2. Zantac Cairan Injeksi 25 mg/mL dari PT Glaxo Wellcome Indonesia

3. Rinadin Sirup 75 mg/5mL dari PT Global Multi Pharmalab

4. Indoran Cairan Injeksi 25 mg/mL

5. Ranitidine cairan injeksi 25 mg/ML dari PT Indofarma.

Baca: Anda Menderita Maag? Sebaiknya Hindari 7 Makanan Ini, Agar Asam Lambung Tidak Naik

Baca: Jangan Anggap Remeh! Ini 5 Manfaat Kuaci bagi Kesehatan, Salah Satunya Atasi Masalah Kesuburan Pria

Baca: Waspada Radang Amandel Pada Balita, Jajanan Ini Bisa Jadi Pencetusnya

Baca: Waspada Penyakit Batu Ginjal, Ini 7 Ciri-cirinya! Termasuk Jika Anda Sering Alami Sakit Pinggang

Produk ranitidin yang diperintahkan penarikannya setelah terdeteksi mengandung NDMA adalah Ranitidine Cairan Injeksi 25 mg/mL dengan pemegang izin edar PT Phapros Tbk.

Sementara itu, empat produk ranitidin lainnya ditarik sukarela.

Dilansir dari penjelasan BPOM RI tentang penarikan produk ranitidin yang tekontaminasi NDMA, ranitidin sebetulnya telah mendapatkan persetujuan dari BPOM untuk pengobatan gejala penyakit tukak lambung dan tukak usus sejak 1989.

Pemberian izin tersebut didasari oleh kajian evaluasi keamanan, khasiat dan mutu.

Namun, pada 13 September 2019, BPOM Amerika Serikat (FDA) dan BPOM Eropa (EMA) mengeluarkan peringatan tentang adanya temuan cemaran NDMA dalam kadar rendah pada sampel produk yang mengandung bahan aktif ranitidin.

"NDMA merupakan turunan zat Nitrosamin yang dapat terbentuk secara alami," ujar siaran pers resmi dari BPOM, 4 Oktober 2019.

Menurut studi global, NDMA memiliki nilai ambang batas 96 ng/hari dan bersifat karsinogenik jika dikonsumsi di atas ambang batas secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama.

Didasari oleh temuan tersebut, BPOM melakukan pengambilan dan pengujian terhadap sampel produk ranitidin.

Baca: Bayi Kembar Irish Bella Meninggal Dalam Kandungan, Begini Upaya Pemulihan Bagi Calon Ibu Usai Caesar

Baca: Jangan Selalu Salahkan Makanan Manis Soal Penyakit Diabetes, Peduli Hal Ini! Bagaimana Saat Puasa

Baca: Wabah Hepatitis A Jangkiti Warga Pacitan, Jawa Timur, Begini Cara Agar Tidak Tertular Hepatitis

Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian sampel mengandung cemaran NDMA dalam jumlah yang melebihi batas.

BPOM pun menindaklanjuti hasil pengujian dengan memerintahkan kepada industri farmasi pemegang izin edar produk untuk menghentikan produksi dan distribusi, serta melakukan penarikan kembali seluruh bets produk dari peredaran.

Industri farmasi juga diwajibkan untuk melakukan pengujian secara mandiri terhadap cemaran NDMA dan menarik secara sukarela bila kandungan cemarannya ditemukan melebihi ambang batas yang diperbolehkan.

Terkait pengujian dan kajian risiko, BPOM menyatakan akan melanjutkannya terhadap seluruh produk yang mengandung ranitidin.

Sementara itu, masyarakat yang sedang menjalani terapi pengobatan menggunakan ranitidin dihimbau untuk menghubungi dokter dan apoteker.(*)

Artikel ini sudah tayang di kompas.com dengan judul "Ranitidin, Pernah Jadi Produk Terlaris hingga Kini Ditarik dari Peredaran".

Editor: Hasriyani Latif
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved