Hentikan Reservasi Tiket Pesawat Mulai Besok, Benarkah Sriwijaya Air akan Berhenti Operasional?

Buntut dari perselisihan dengan manajemen Garuda Indonesia, Sriwijaya Air dikabarkan akan menghentikan ;ayanan reservasi tiket mulai Jumat (27/9/2019)

Hentikan Reservasi Tiket Pesawat Mulai Besok, Benarkah Sriwijaya Air akan Berhenti Operasional?
Istimewa
Hentikan Reservasi Tiket Pesawat Mulai Besok, Benarkah Sriwijaya Air akan Berhenti Operasional? 

Hentikan Reservasi tiket pesawat Mulai Besok, Benarkah Sriwijaya Air akan Berhenti Operasional?

TRIBUN-TIMUR.COM-Kabar buruk datang dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air.

Buntut dari perselisihan dengan manajemen Garuda Indonesia, Sriwijaya Air dikabarkan akan menghentikan ;ayanan reservasi tiket mulai Jumat (27/9/2019) besok.

Penghentian layanan reservasi tiket Sriwijaya Air ini akan berlaku hingga waktu yang belum ditentukan.

Dikutip dari Kompas.com, berdasarkan salinan email yang didapat Kompas.com dari sumber internal Sriwijaya Air, maskapai tersebut telah memberikan pemberitahuan kepada karyawannya soal potensi pemberhentian operasi maskapai itu.

Kabar Terbaru CPNS 2019, Rincian Formasi dan Jadwal Tes SKD dan SKB, Mulai Siapkan 5 Dokumen Wajib!

Mahasiswa Demo Tolak RKUHP dan RUU KPK, Menkumham: Kayak Dunia Mau Kiamat Aja Soal KUHP Ini

Jadwal Korea Open 2019 Hari ini, Praveen/Melati vs Hafiz/Gloria Berebut Tiket Perempat Final

Logo maskapai Sriwijaya Air
Logo maskapai Sriwijaya Air (Kompas.com)

“Dear team, guna menghindari dampak yang lebih besar terkait diberhentikannya dukungan maintenance dari GMF dan hasil audiensi dengan DKUPPU & DAU dimana terdapat potensi STOP OPERATION, maka agar dilakukan close reservation untuk DOT 27 September-UFN eff per hari ini,” demikian bunyi email yang didapatkan Kompas.com, Kamis (26/9/2019).

Surat elektronik tersebut disebarkan pada Rabu (25/9/2019) kemarin.

Kompas.com mencoba mengkonfirmasi hal tersebut kepada Direktur Operasi Sriwijaya Air Fadjar Semiarto.  Namun, Fadjar mengaku belum mengetahui kabar tersebut.

“Saya sedang dinas luar negeri. Saya belum update kondisi terakhir,” kata Fadjar.

Garuda Maintenance Facilities (GMF) sendiri dikabarkan akan menarik lima mesin pesawat CFM yang disewa Sriwijaya Air.
Tak hanya itu, PT Gapura Angkasa mengancam akan menghentikan layanan ground handling untuk Sriwijaya Air jika maskapai tersebut tak segera membayarkan utangnya.
Dalam surat bernomor GAPURA/DZ/2122/SEP/2019 tertanggal 25 September yang diterima Kompas.com, Sriwijaya Group disebut memiliki tunggakan sebesar Rp 43,5 miliar.
Gapura Angkasa meminta manajemen Sriwijaya Air Group untuk bisa melunasinya paling lambat 30 September 2019.
Jika tak segera melunasi, Gapura mengancam akan menghentikan layanan ground handling untuk Sriwijaya Air Group.
Sebelumnya, Maskapai Garuda Indonesia Group memutuskan untuk  mencabut logonya pada armada Sriwijaya Air.
Hal ini dilakukan menindaklanjuti perkembangan yang terjadi atas dispute kerja  sama Manajemen (KSM) Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Air Group.
 “Pencabutan logo Garuda Indonesia pada armada Sriwijaya Air tersebut merupakan upaya dalam menjaga brand Garuda Indonesia Group khususnya mempertimbangkan konsistensi layanan Sriwijaya Air Group yang tidak sejalan dengan standarisasi layanan Garuda Indonesia Group sejak adanya dispute KSM tersebut,” ujar Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan dalam keterangan tertulisnya, Rabu (25/9/2019).
Utang Rp 791,44 Miliar di Pertamina
Pesawat udara Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air.
Pesawat udara Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air. (AIRMAGZ.COM)
PT Pertamina (persero) mendesak Sriwijaya Group segera melunasi utangnya sebesar Rp 791,44 miliar.
BUMN energi tersebut meminta Sriwijaya membayarkan utangnya paling lambat pada Rabu (18/9/2019) mendatang.
Hal tersebut diketahui Kompas.com dari surat penagihan utang yang beredar.
Berdasarkan surat tersebut, nilai utang Sriwijaya Air yang belum jatuh tempo sebesar Rp 57,97 miliar. Sedangkan jumlah yang sudah lewat jatuh tempo sebanyak Rp77,23 miliar.
Lalu ditambah restrukturisasi sebesar Rp377,62 miliar. Sementara, Sriwijaya Air memiliki saldo autocol sebesar Rp13,08 juta.
Sedangkan utang NAM Air yang sudah jatuh tempo kepada Pertamina sebesar Rp Rp21,16 miliar. Lalu utang yang belum jatuh tempo sebanyak Rp Rp25,48 miliar dan restrukturisasi Rp232,34 miliar.
Selanjutnya, saldo autocol Nam Air hingga 10 September 2019 sebesar Rp371,55 juta.
Surat bernomor 037/H10530/2019-S4 itu dibuat oleh Direktur Keuangan Manager Billing & Collection Gatot Siswowijono dan ditujukan kepada Direktur Keuangan Sriwijaya.
Kompas.com telah mencoba konfirmasi ke Wakil Komisaris Sriwijaya Air Chandra Lie dan Senior Manager of Corporate Communications Sriwijaya Air Retri Maya terkait surat tersebut.
Namun, keduanya hingga pukul 12.40 WIB tak juga memberikan respon. Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman juga tak memberikan respon terhadap pesan singkat dan sambungan telepon Kompas.com.
Terkait Pencopotan Direksi? Beberapa hari lalu, Sriwijaya Air merombak susunan direksinya.
Pemegang saham mencopot direksi yang berasal dari Garuda Indonesia, yakni Direktur Utamanya Joseph Adrian Saul, kemudian Direktur Human Capital and Service Harkandri M Dahler, dan Joseph K Tendean selaku Direktur Komersial.
Untuk menempati posisi ketiga orang tersebut, Dewan Komisaris menunjuk Anthony Raimond Tampubolon selaku Plt Direktur Utama, Plt Direktur Human Capital & Layanan, dan Plt Direktur Komersial.
Josep Adrian merupakan mantan General Manager Garuda Indonesia Denpasar, lalu Harkandri M Dahler sebelumnya menjabat Direktur Personalia Garuda Maintenance Facility, sedangkan Joseph K Tendean pernah menjabat sebagai Senior Manager Ancillary Garuda Indonesia.
Hal tersebut pun dibenarkan oleh Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Group, Ikhsan Rosan.  
 “Betul (ketiganya merupakan orang Garuda Indonesia),” ujar Ikhsan kepada Kompas.com, Selasa (10/9/2019).
Garuda Indonesia menaruh orang-orangnya di Sriwijaya Air untuk membantu maskapai tersebut karena Sriwijaya Air terlilit utang di 3 BUMN yakni BNI, Pertamina, dan Garuda Maintenance Facility (GMF).
Bantuan yang diberikan Garuda dilakukan melalui skema Kerja Sama Manajemen (KSM) antara Citilink bersama PT Sriwijaya Air dan PT NAM Air.
KSM tersebut dilakukan sejak 9 November 2018 dan berlaku selama 5 tahun. 
Di bawah pengelolaan Garuda Indonesia, kinerja keuangan Sriwijaya Air membaik. Bahkan Tahun lalu, Sriwijaya Air mencatatkan kerugian hingga Rp 1,2 triliun.
Namun, setelah berada di bawah pengelolaan Garuda Indonesia, kinerja maskapai tersebut membaik.
Bahkan, Joseph Tendean yang ketika itu masih menjabat sebagai Direktur Utama Sriwijaya Air menargetkan pada tahun ini maskapai ini mencatatkan keuntungan setelah di tahun 2018 menderita kerugian hingga Rp 1,2 triliun.
“Saya ngomong (target) di RKAP kita Rp 300 miliar. Kelihatannya sih (bisa) lebih,” ujar Direktur Niaga Sriwijaya Air Joseph Tendean di Jakarta, Senin (15/7/2019).


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Benarkah Sriwijaya Air Akan Hentikan Operasionalnya?", https://money.kompas.com/read/2019/09/26/122331026/benarkah-sriwijaya-air-akan-hentikan-operasionalnya?page=all.
Penulis : Akhdi Martin Pratama
Editor : Erlangga Djumena
Editor: Anita Kusuma Wardana
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved